Usai ‘Nyanyian’ Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ini Diperiksa Penyidik, Kini Ada Ramai-ramai Bantah Korupsi MBG

0 75

DERAKPOST.COM – Eks dari Wakil Kepala (Waka) Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sanjaya yang selaku salah satu tersangka, mengancam bakal mengungkapkan daftar nama-nama yang terlibat dalam hal kasus korupsi MBG.

Namun diketahui saat ini, sejumlah pihak beramai-ramai angkat bicara membantah dugaan keterlibatan mereka pada dugaan kasus korupsi di tata kelola program MBG tersebut. Pernyataan itupun, disampaikan mereka usai adanya ancaman tersebut.

Dikutip dari laman CNNIndonesia. Sony juga telah mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC) dalam perkara tersebut. Status itu juga memberikannya perlindungan khusus jika dirinya bersedia membongkar keterlibatanya pihak lain.

Sebagaimana halnya itu diketahui. Kuasa Hukum Sony, mengungkap ada 26 nama yang terlibat dalam kasus korupsi MBG. Pengacara Sony, Krisna Murti menyebut kliennya menyebut puluhan nama-nama besar itu telah tercatat pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) olehnya penyidik

“Pokoknya itu dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. Paling banyak Ini legislatif. Total jumlah namanya itu ada 26. Kemungkinan bertambah, itu baru sebagian saja,” terang Krisna. Namun, tak merinci nama-nama itu ke publik siapa saja yang dimaksud.

Terkait paparan disampaikan tersebut. Ada beberapa pihak yang telah menyampaikan bantahan. Mereka ada mulai dari legislatif, menteri, hingga kepala daerah. Seperti hal data informasi dirangkum media ini. Maka, berikut pihak yang telah membantah.

Bantahan Ketum Partai Demokrat

Partai Demokrat menegaskan tak memiliki hubungan dengan mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya yang telah menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Demokrat mengaku tak pernah merekomendasikan siapapun untuk mendapat jatah proyek program MBG.

Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menyatakan AHY tidak mengenal sosok Sony Sonjaya. Menurut dia, AHY juga tidak pernah bertemu maupun berkomunikasi dengan yang bersangkutan.

“Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak mengenal Saudara Sony Sonjaya. AHY tidak pernah bertemu maupun berkomunikasi dengan Saudara Sony Sonjaya,” kata Herzaky dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

AHY disebutkan, bahwa tidak pernah ada mengusulkan ataupun merekomendasikan, meminta bantuan, ataupun untuk meminta dukungan kepada Saudara Sony Sonjaya terkait program SPPG maupun urusan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,” kata imbuhnya.

Komisi IX sebut Hoaks

Wakil Ketua Komisi IX DPR bidang kesehatan, Yahya Zaini membantah pihaknya terlibat dalam kasus tersebut. Menurut Yahya, info yang sempat beredar di media sosial dan menyebut keterlibatan pihaknya adalah hoaks.

“Tidak benar, semua anggota Komisi IX tidak terlibat korupsi di BGN. Itu infonya hoaks,” kata politikus Partai Golkar itu saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Selain Yahya, nama lain yang beredar di media sosial adalah anggota Komisi IX Irma Chaniago. Anggota DPR dari Fraksi PAN itu juga sebelumnya ikut membantah.

Wakil Ketua KPK Angkat Suara

Pernyataan serupa juga disampaikan Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto setelah namanya ikut beredar. Fitroh menegaskan sama sekali tidak mengenal Sony Sonjaya.

“Saya tidak kenal secara personal dengan Sony dan saya tidak pernah komunikasi untuk minta titik dapur, apalagi membeli titik karena saya tidak bisnis dapur,” ujar Fitroh saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Sementara, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan Fitroh tidak mempunyai hubungan dengan Sony Sonjaya. Adapun untuk yayasan yang dikaitkan dengan program MBG, itu sudah dibentuk jauh-jauh hari sebelumnya.

“Pak Fitroh Rochcayanto tidak mengenal saudara Sony Sonjaya,” ucap Budi. Dikata dia, kemudian terkait yayasannya sudah dibentuk jauh sebelum adanya program MBG. Yayasan ini fokus bergerak dalam berbagai kegiatan sosial. Seperti halnya dalam pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Bima Arya juga Bantah

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya juga ikut membantah dugaan keterlibatannya di kasus korupsi MBG.

Dia mengakui sempat berkoordinasi dengan BGN. Namun, komunikasi itu hanya terkait tugas kerja, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Tidak ada kepentingan pribadi, apalagi sampai memiliki dapur. Saya hanya bertemu dan berkoordinasi dengan pimpinan BGN di rapat koordinasi resmi,” katanya.

Bima menjelaskan berdasar Keppres Nomot 28 Tahun 2025 tentang Tim Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG, diatur beberapa tugas dari Kemendagri.

Salah satunya adalah memfasilitasi penyelesaian kendala dan hambatan dalam penyelenggaraan MBG bersama pemerintah daerah dan BGN.

Ia mengaku berkoordinasi dengan pimpinan BGN dan para Kepala Daerah untuk menyelesaikan persoalan lapangan.

“Termasuk masalah di titik terpencil yang juga jadi tugas kemendagri. Ada juga laporan dari teman-teman Kadin terkait pelaksanaan MBG di daerah yang perlu ditindaklanjuti,” katanya.

Klarifikasi Dudung

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung AbdurachmanĀ ikut membantah kabar yang menyebut dirinya memiliki SPPGĀ atau dapur program MBGĀ melalui eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.

DudungĀ mengaku pernah menghubungi DadanĀ terkait permintaan sebuah pesantren untuk jadi penerima manfaat sekaligus pelaksana MBG. Namun ia mengklaim tidak terlibat proses selanjutnya.

“Ada berita Pak Dudung katanya punya titik dapur melalui Pak Dadan. Saya informasikan, jadi beberapa bulan yang lalu mungkin enam bulan yang lalu saya kan dekat dengan pesantren,” kata Dudung dalam konferensi pers di KSP, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan sejumlah pengurus pesantren meminta bantuan untuk dikenalkan kepada Dadan. Saat itu, kata Dudung, pesantren yang dimaksud telah memiliki kesiapan administratif untuk mengikuti program MBG.

Menurut Dudung, pesantren tersebut memiliki jumlah santri yang besar sehingga dinilai berpotensi menjadi titik pelaksanaan program dapur MBG.

“Ada pengurus-pengurus pesantren itu menyampaikan kepada saya bahwa ada program memang pesantren untuk sebagai sasaran penerima manfaat karena di pesantren itu kan ada santrinya 4.000, ada yang 5.000 sehingga bisa ditetapkan sebagai titik untuk dapurnya,” ujarnya.

Dudung mengatakan dirinya kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada Dadan. Namun setelah proses perkenalan dilakukan, ia mengaku tidak lagi terlibat dalam pembahasan lanjutan.

Ia bahkan meminta pihak pesantren berkoordinasi langsung dengan stafnya untuk menindaklanjuti komunikasi dengan pihak BGN.Ā  (Dairul)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.