Santri Ponpes Al Muhsinin di Rohil Diduga Jadi Korban Kekerasan, Parang Disebut Diletakkan di Leher

0 9

DERAKPOST.COM – Dugaan kekerasan pada santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhsinin, di Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) ini mencuat, dengan keluhan dari santri Ponpes.

Sejumlah santri disebut telah mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental yang diduga dilakukan oleh Agus Syahad, anak dari Amiruddin mantan anggota DPRD di Rokan Hilir (Rohil), pemilik yayasan, yakni menaungi Ponpes pesantren tersebut.

Peristiwa hal dugaan kekerasan, disebut terjadi tanggal 26 Agustus 2026 malam.
Saat para santri sedang menjalani waktu istirahat. Informasi dihimpun menyebut kejadian bermula ketika Agus Syahad itu, panggil santri kelas 7 dan 8, berkumpul.

Namun, saat panggilan disampaikan, para santri sedang berada dalam kondisi waktu istirahat. Sebagian tidur, mencuci pakaian, dan lakukan aktivitas lainnya. Akhirnya sejumlah santri tersebut malah mendapat hukuman, karena dianggap terlambat.

Seperti hal disampaikannya seorang santri yang meminta tak disebut nama. Dikatakan dia, sejumlahan santri kemudian mendapat hukuman, yang karena dianggap terlambat memenuhi panggilan sesuai halnya waktu yang ditentukan dipanggilan tersebut.

Namun, saat panggilan disampaikan, para santri sedang berada dalam kondisi waktu istirahat. Sebagian tidur, mencuci pakaian, dan melakukan aktivitas lainnya. Sehingga ada yang datang terlambat, tapi mendapat tekanan dari anak pemilik Ponpes itu.

Seorang santri mengakui menjadi korban, namun meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan sejumlahan santri kemudian mendapat hukuman yang karena dianggap terlambat memenuhi panggilan tersebut.

“Karena pemanggilan melalui mikrofon tiba-tiba, kami waktu itu sedang jam istirahat. Ada yang tidur, ada yang mencuci dan sebagainya,” ujar santri tersebut, yang meminta nama tidak disebutkan.

Menurut keteranganya, hukuman diberikan diduga menggunakanya alat bantu. Dalam hal ini, bahkan korban itu mengaku sempat mengalami perlakuan dengan melibatkan atau memakai senjata tajam yang berupa parang.

“Parang itu diletakkan di leher para santri. Ada juga dilempar menggunakan parang. Untung hal itu tidak mengenai teman saya,” katanya. Dugaan tindakan tersebut disebut tidak hanya timbulkan luka atau ketakutan secara fisik, tetapi terhadap psikologis.

Sejumlah santri disebut mengalami trauma dan juga takut kembali mengikuti kegiatan belajar di pondok pesantren. Bahkan, juga beberapa orang tua wali murid dikabarkan telah memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain karena kekhawatiran.

Terkait informasi itu, awak media berusaha melakukan konfirmasi pada pihak Ponpes tersebut. Namun, hingga berita ini diupload atau dipublikasikan, belum dapat jawaban. Pasalnya, berulang kali dikonfirmasi, tetapi pihak Ponpes tak ada merespon. (Khairul)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.