DERAKPOST.COM – Kabar gembira kembali datang dari sektor hulu migas nasional. Ini seperti disampaikannya Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, bahwa proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis kimia itu yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Lapangan Minas, Riau, mulai menunjukkan hasil nyata.
Hanya dalam waktu enam bulan sejak injeksi bahan kimia pertama dilakukan di Area A pada Desember 2025, produksi minyak di lapangan raksasa itu tercatat melonjak hingga 300 persen, sesuai target yang telah direncanakan.
Djoko menyebutkan, capaian ini menjadi bukti bahwa teknologi Chemical EOR (C-EOR) dapat menjadi salah satu jawaban untuk mendongkrak lifting minyak nasional di tengah tantangan penurunan alamiah produksi sumur tua.
“Alhamdulillah, proyek EOR PHR Lapangan Minas saat ini telah menunjukkan hasil nyata. Dalam waktu enam bulan produksi sudah meningkat 300 persen,” ujar Djoko dalam laporannya, Senin (22/6/2026), seperti diceritakan kepada wartawan yang dikutip dari RuangEnergi.
Tak berhenti di situ, target ambisius sudah dipatok. Pada Desember 2026, produksi dari Area A ditargetkan bisa melonjak hingga 50 kali lipat dibanding kondisi awal sebelum injeksi.
Proyek C-EOR di Minas sendiri mencakup enam area pengembangan, yakni Area A, B, C, D, E, dan F. Saat ini, PHR tengah bersiap melakukan injeksi kimia untuk Area B dan D.
Sementara untuk Area C, E, dan F, skema pengembangannya tengah disiapkan melalui kerja sama yang mengacu pada Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 atau melalui bentuk kolaborasi lain dengan Daqing Oilfield Company, perusahaan migas asal China yang dikenal sukses mengimplementasikan teknologi EOR.
Dalam proyek ini, bahan kimia yang digunakan terdiri dari alkali yang diproduksi di dalam negeri, surfaktan yang diramu sendiri oleh PHR dengan formula paten internal, serta polimer yang masih diimpor.
Jika seluruh area dapat berjalan paralel sesuai rencana, SKK Migas dan PHR membidik puncak produksi pada 2029-2030 dengan potensi mencapai 200.000 barel minyak per hari (BOPD).
Angka itu bukan hanya akan menjadi tonggak baru bagi Lapangan Minas—yang dikenal sebagai salah satu lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara—tetapi juga berpotensi jadi model pengembangan EOR nasional yang bisa direplikasi oleh seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Dengan keberhasilan awal ini, proyek EOR Minas kini menjadi salah satu harapan besar pemerintah untuk mendorong target lifting minyak nasional kembali menanjak. “Bersama kita bisa, lifting naik bisa, bisa, bisa,” tutup Djoko penuh optimisme. (Redaksi)