DERAKPOST.COM – Tengku Mansyur Chalid yang diketahui seorang Tokoh dan Pejuang didaerah asal Siak. Dimana momen HUT ke 69 Provinsi Riau memperoleh penghargaan diserahkan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto,
dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Ahad (9/8/2026).
Penghargaan diserahkan yang catatannya sejarah perjuangan kemerdekaan di daerah Kabupaten Siak. Ia Bangsawan Kesultanan Siak Sri Indrapura dengan bergelar Tengku Panglima Dalam, dianugerahi penghargaan secara anumerta oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau ini sebagai Pejuang Daerah asal Siak.
Tengku Mansyur Chalid yang sebelumnya diusulkan sebagai tokoh dan Pejuang Daerah Kabupaten Siak 2026 oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Siak. Pengusulan tersebut mengacu pada sejumlah sumber sejarah, termasuk arsip Kesultanan Siak, catatan perjuangan, serta dokumen yang dihimpun keluarga dan ahli waris.
Bupati Siak Afni Zulkifli menyampaikan apresiasi atas penghargaan tersebut. Menurutnya, jejak perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti Tengku Mansyur Chalid penting untuk terus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Alhamdulillah, tahniah atas penghargaan yang diberikan Plt. Gubernur Riau kepada Almarhum datuk Tengku Mansur Chalid sebagai pejuang daerah asal Siak. Diwakilkan ahli waris bapak Tengku Hamdan anak dari almarhum bapak Tengku Mansur Chalid,” kata Afni, di Siak.
Afni mengatakan, sejarah perjuangan di Siak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Riau dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia pun berharap penghargaan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengenalkan kembali jasa dan perjuangan Tengku Mansyur Chalid kepada generasi muda.
“Dengan diberikannya penghargaan ini kepada tokoh Siak, diharapkan jasa almarhum menjadi tauladan bagi generasi muda dalam membangun Siak yang Hebat dan Bermartabat,” ujar dia. Menurut Afni, masih terdapat sejumlah tokoh perjuangan dari Siak yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah daerah.
Dikatakan dia, Tengku Mansur Chalid salah satu tokoh yang berjuang itu di era revolusi kemerdekaan, masih banyak lagi tokoh dan pejuang daerah setelah kita merdeka yang menerima penghargaan dari Gubernur,” kata Afni.
Tengku Mansyur Chalid lahir di Siak pada 13 Desember 1912 dan meninggal dunia pada 21 Maret 1991. Ia merupakan putra Tengku Endut Said Chalid dan Tengku Long Badariah serta berasal dari lingkungan bangsawan Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Tengku Mansyur Chalid telah dipercaya memegang kedudukan penting di lingkungan kesultanan. Berdasarkan Surat Angkatan Nomor 218 tertanggal 1 Agustus 1940 atau 27 Jumadil Akhir 1359 Hijriah, Sultan Syarif Kasim II menganugerahkan kepadanya gelar Tengku Panglima Dalam.
Gelar tersebut bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menunjukkan kepercayaan Kesultanan Siak terhadap kapasitas kepemimpinan dan pengabdian Tengku Mansyur Chalid dalam lingkungan kerajaan.
Peran tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan ketika kabar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai ke Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, situasi daerah belum sepenuhnya stabil. Kekuasaan Jepang telah berakhir, sementara ancaman kembalinya pemerintahan kolonial Belanda bersama pasukan Sekutu mulai membayangi berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah keterbatasan sarana komunikasi, para tokoh Siak melakukan konsolidasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Orang Kaya Muhamad Djamil, Tengku Mansyur Chalid berada di posisi nomor satu dalam struktur pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Siak.
Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh sentral dalam mengorganisasi kekuatan pemuda dan masyarakat menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.
Tengku Mansyur Chalid tidak bergerak sendiri. Dalam struktur perjuangan tersebut terdapat sejumlah tokoh lain, antara lain Ilyas H. Muhammad, Encik Mohoyan, Wan Amran, Karim Jang, Abdul Manaf Hadi, Umar Yet, dan Anwar Diman.
Salah satu langkah penting yang tercatat dalam dokumen perjuangan adalah pengorganisasian persenjataan yang berada di lingkungan Kesultanan Siak. Senjata yang tersedia, termasuk senjata api dan persenjataan tradisional seperti tombak serta kelewang, kemudian disalurkan kepada para pemuda untuk memperkuat pertahanan daerah.
Langkah tersebut dilakukan ketika Indonesia masih berada dalam masa revolusi fisik dan berbagai daerah menghadapi ketidakpastian politik serta ancaman kembalinya kolonialisme Belanda.
Perjuangan Tengku Mansyur Chalid tidak berhenti pada bidang pertahanan. Ia juga terlibat dalam pembentukan pemerintahan sipil Republik di Siak.
Dalam struktur Komite Nasional Indonesia (KNI) Siak Sri Indrapura, Tengku Mansyur Chalid tercatat sebagai anggota inti. Pada restrukturisasi KNI Siak pada Januari 1946, ia berada dalam jajaran bersama M. Nur Madjid sebagai ketua dan O.K. Muhamad Djamil sebagai wakil ketua.
Peran tersebut penting karena masa awal kemerdekaan tidak hanya membutuhkan kekuatan bersenjata, tetapi juga tokoh yang mampu menjaga keberlangsungan pemerintahan sipil dan ketertiban masyarakat.
Pengakuan terhadap kiprah Tengku Mansyur Chalid juga telah diberikan negara jauh sebelum pengusulan sebagai Pejuang Daerah Riau.
Berdasarkan dokumen yang disampaikan pihak keluarga, ia memperoleh Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia berdasarkan Petikan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Nomor Skep/956/VIII/1981 yang ditetapkan di Jakarta pada 15 Agustus 1981.
Dokumen tersebut mencatat Tengku Mansur Chalid dengan NPV 4003840 dan golongan B. Setelah meninggal dunia pada 1991, Tengku Mansyur Chalid dimakamkan di kawasan Masjid Syahabuddin, Jalan Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura. Makamnya berada di kawasan bersejarah yang juga berkaitan dengan sejumlah tokoh penting Kesultanan Siak, termasuk Sultan Syarif Kasim II.
Penghargaan Pejuang Daerah Riau tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ingatan sejarah perjuangan masyarakat Siak dalam mempertahankan kemerdekaan. Jejak Tengku Mansyur Chalid menunjukkan bahwa perjuangan di daerah berlangsung melalui berbagai jalur, baik melalui kekuatan pertahanan maupun pembentukan pemerintahan sipil. (Yusuf)