Dedi Mulyadi: Sudah Ditawari Jadi Pegawai PU Jabar, Ribuan Eks Pekerja Tambang Bogor Tidak Ada yang Daftar
DERAKPOST.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan telah tawarkan solusi, supaya para eks pekerja tambang beralih profesi menjadi tenaga kebersihan dibawah naungan Dinas Pekerjaan Umum (PU) daerah setempat.
Karena diketahui, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM ini, dengan telah tegas buka kembali Izin Tambang di Bogor. KDM dalam hal ini menawarkan solusi bagi eks pekerja tambang di Parungpanjang. Hal ini KDM menegaskan, bahwasa kenyamanan masyarakat luas itu menjadi prioritas yang tidak dapat ditawar.
KDM mengaku, sudah menawarkan solusi agar para eks pekerja tambang itu, beralih profesi menjadi tenaga kebersihan berada bawah naunganya Dinas PU Provinsi Jawa Barat. Tawaran mencakup upah yang layak serta jaminan BPJS Ketenagakerjaan.
“Saya sudah ada minta data pekerja kasar tambang, yang upahnya hanya Rp40.000 – Rp50.000 per hari tanpa asuransi itu. Mau saya masukkan menjadi tenaga kebersihan PU Jabar untuk wilayah Bogor. Tetapi sampai sekarang, tidak ada yang memberi datanya,” ungkap KDM, dikutip dari laman TVOnenews.
KDM menjelaskan salah satu ganjalan utama dalam penyelesaian konflik tambang ini adalah ketidaksesuaian data terkait kompensasi bagi para pekerja. Berdasarkan perhitungan Pemprov Jabar, jumlah pekerja tambang dan sektor informal terkait hanya berkisar 3.000 orang.
Namun, pihak desa mengajukan data sebanyak 18.000 penerima. “Tadinya saya menghitung, jika 3.000 orang diberikan kompensasi Rp3 juta per bulan selama enam bulan, itu cukup. Tetapi karena yang diajukan 18.000 orang, alokasi yang seharusnya untuk enam bulan akhirnya habis diberikan sekali saja karena semua warga dimasukkan sebagai penerima. Bagi kami, kewajiban kompensasi itu sudah selesai dilakukan,” tuturnya.
KDM mengakui adanya upaya intensif dari Bupati dan Wakil Bupati Bogor yang memperjuangkan nasib para pekerja tambang. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Bogor telah berulang kali meminta pertemuan khusus antara dirinya dengan para pengusaha tambang.
Namun, Dedi memilih untuk menjaga jarak guna menghindari konflik kepentingan. “Saya belum memenuhi pertemuan itu karena saya menjaga integritas. Seluruh keputusan harus dilakukan berdasarkan sistem, bukan sekadar pertemuan informal. Kita harus ingat, yang disebut bekerja di sektor tambang itu tidak semuanya pekerja kasar. Ada juga yang hanya berdiri di jalan minta setoran, ada aktivisnya juga,” tegasnya.
Lebih lanjut, KMD menekankan urusan tambang bukan sekadar masalah ekonomi bagi pengusaha dan pekerja di dalamnya, melainkan menyangkut hajat hidup puluhan ribu warga yang terdampak kemacetan dan polusi di jalur Parung Panjang. KDM tidak ingin masyarakat di daerah tersebut kembali menderita akibat dampak truk tambang yang selama ini menyebabkan depresi hingga korban jiwa.
“Kalau tambang dibuka sekarang, jalannya mau lewat mana? Pasti lewat Parung Panjang lagi. Nanti masyarakat di sana demo lagi. Saya harus mengambil jalan tengah. Fokus kita adalah memastikan anak sekolah, pekerja kantor, dan pedagang di sana bisa bepergian dengan nyaman,” tambahnya. (Dairul)