Ini Penyebab Rupiah Menguat ke Bawah Rp18.000 Per Dollar AS

0 64

DERAKPOST.COM – Nilai tukar rupiah menguat dalam beberapa hari terakhir setelah sempat tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari laman Kompas..Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di level Rp 17.860 per dollar AS, menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.989 per dollar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menguat ke level Rp 17.921 per dollar AS dari sebelumnya Rp 17.981 per dollar AS.

Lalu, apa yang menjadi penyebab rupiah menguat?

Kenaikan BI Rate
Kenaikan jadi penopang utama Penguatan rupiah tidak lepas dari keputusan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat perang di Timur Tengah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai langkah BI menaikkan suku bunga memberikan bantalan terhadap rupiah. Menurut dia, kombinasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan koordinasi yang kuat antara BI dan pemerintah berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.

“Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat,” ujar Josua.

Modal Asing Kembali Masuk
Kenaikan BI Rate juga meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan aliran modal asing menunjukkan perkembangan positif setelah kenaikan suku bunga acuan.

Pada 10 Juni 2026, aliran dana asing pada SRBI nonresiden mencapai Rp 15,11 triliun. Sehari kemudian, dana asing yang masuk ke SBN tercatat sebesar Rp 3,91 triliun. Selain itu, penerbitan perdana obligasi internasional Danantara juga berhasil menghimpun dana sebesar Rp 26,9 triliun.

Dengan demikian, total aliran modal asing yang masuk melalui ketiga instrumen tersebut mencapai sekitar Rp 45,92 triliun. “Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” kata Destry.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan BI, termasuk kenaikan BI Rate dan peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Arus masuk modal asing tersebut turut mendorong penguatan rupiah hingga kembali berada di bawah level Rp 18.000 per dollar AS.

Fundamental Ekonomi Indonesia
Fundamental ini dinilai tetap kuat Selain faktor kebijakan moneter, prospek ekonomi Indonesia yang masih terjaga juga menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari keputusan World Bank yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,6 persen secara tahunan, menjadi pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II-2021. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN), serta akselerasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sepanjang tahun ini, konsumsi swasta diperkirakan tumbuh di kisaran 5,0 persen, sedangkan konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat hingga 8,7 persen. Di sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada kuartal I-2026 juga tumbuh solid sebesar 6,0 persen.

Risiko Global Masih Membayangi
Risiko masih membayangi rupiah, meski menguat, sejumlah risiko global masih berpotensi menahan laju penguatan mata uang Garuda.

Menurut Josua, penguatan rupiah masih dibatasi oleh kombinasi penguatan dollar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan tingginya ketidakpastian global. Perkembangan di Timur Tengah membuat dollar AS kembali diminati sebagai aset aman atau safe haven.

Selain itu, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Data terbaru menunjukkan harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada Mei 2026 meningkat lebih tinggi dari perkiraan.

Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember 2026 mencapai sekitar 60 persen. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian.

Konflik yang melibatkan Iran dan isu penutupan Selat Hormuz berpotensi menjaga harga minyak dunia tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global.

Prediksi Rupiah ke Depan
Bank Indonesia meyakini penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut menuju level fundamentalnya. Ke depan, bank sentral akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar offshore melalui Non Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, BI memperkuat kerja sama dengan People’s Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority melalui penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) dan perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral atau Local Currency Transaction (LCT).

Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai perkirakan ruang penguatan rupiah masih terbuka. Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, memproyeksikan rupiah berpotensi menguat menuju level Rp 17.700 per dollar AS pada pekan depan.

Menurut dia, proyeksi tersebut sejalan dengan mulai kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik. Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), investor asing tercatat membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp 287 miliar di pasar saham.

Kembalinya modal asing itu juga diperkirakan menopang penguatan pasar saham domestik. Azharys memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi melanjutkan penguatan dengan area support di level 5.920 dan resistance kuat di 6.200.

Meski demikian, sejumlah risiko global masih perlu diwaspadai. Pelaku pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal pemerintah dapat dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester II dan risiko subsidi energi masih cukup besar. (Dairul)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.