DERAKPOST.COM – Proses seleksi Direktur PT Bumi Siak Pusako (BSP) periode 2026 – 2031 mulai memanas. Di tengah tahapan resmi Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK), muncul dugaan itu adanya peta dukungan kekuasaan di balik sejumlah kandidat yang kini bersaing.
Berdasarkan Pengumuman Panitia Seleksi (Pansel) No: 02/KPTS/UKK-PT BSP/IV/2026, sebanyak sepuluh peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti tahap lanjutan.
Dalam pengumuman tersebut, mereka adalah:
1. Adi Putra Pradana, ST, M.Sc
2. Dudy Lastawan ZA, S.T., M.T
3. Irdas Amanda Muswar, S.T
4. Muhammad Barbarosa, S.T., M.T
5. Muhammad Yusuf, S.Si., M.T
6. Muttaqin, S.T
7. Ridwan, S.T
8. Riky Hariansyah, S T., M.M
9. Robi Junipa, S.T
10. Satria Antoni, S.Pi., M.Sc., Ph.D
Namun, dari sepuluh nama tersebut, perhatian publik dan internal disebut mengerucut pada tiga kandidat yang dinilai paling kuat: Dudy Lastawan, Riky Hariansyah, dan Ridwan.
Bukan Sekadar Seleksi, Ini Pertarungan Pengaruh
Seorang sumber internal yang mengetahui dinamika proses seleksi menyebut, Sabtu, 18/4/2026, kontestasi kali ini tidak sepenuhnya steril dari kepentingan.
“Secara formal memang seleksi, tapi di lapangan sudah mulai terasa ini bukan sekadar uji kompetensi. Ada peta dukungan di belakang masing-masing kandidat,” ujarnya, meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurutnya, setiap kandidat kuat disebut memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan yang berbeda, baik dari unsur eksekutif, legislatif, maupun jaringan di luar struktur pemerintahan.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi maupun bukti terbuka yang mengonfirmasi keterlibatan langsung pejabat tertentu dalam mendukung kandidat tertentu.
Siapa Dukung Siapa?
Penelusuran dilakukan menunjukkan pola yang menarik, perbincangan di internal pemerintahan dan kalangan terkait mulai mengarah pada asumsi bahwa masing-masing kandidat memiliki “jalur komunikasi” dengan aktor berpengaruh.
Sumber lain menyebut, dukungan tersebut tidak selalu dalam bentuk resmi, melainkan melalui kedekatan personal, rekam jejak kerja, hingga hubungan dalam dinamika politik pasca Pilkada.
“Tidak pernah dinyatakan secara terbuka. Tapi di internal, orang-orang sudah bisa membaca arah dukungannya ke mana,” kata sumber tersebut.
Situasi ini memunculkan satu pertanyaan krusial, apakah hasil akhir seleksi nanti akan sepenuhnya ditentukan oleh kompetensi, atau turut dipengaruhi konfigurasi kekuasaan?
Dilema di Meja Pengambil Keputusan
Kondisi ini disebut-sebut menempatkan kepala daerah dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, publik menginginkan transparansi dan profesionalisme. Di sisi lain, dinamika politik dan keseimbangan kepentingan disebut ikut memainkan peran.
Jika benar terjadi tarik-menarik kepentingan, maka keputusan akhir bukan hanya soal memilih direktur, tetapi juga menjaga stabilitas politik internal pemerintahan.
“Ini sensitif. Salah ambil keputusan bisa berdampak ke hubungan politik ke depan, ”ujar sumber yang sama.
Rekam Jejak Jadi Sorotan
Di luar isu dukungan, publik juga mulai menyoroti rekam jejak kandidat, terutama dalam konteks pengalaman di sektor migas.
Hal ini tidak terlepas dari kondisi PT BSP yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan, termasuk penurunan produksi dan persoalan teknis operasional.
Sejumlah pihak menilai, jabatan direktur kali ini terlalu strategis untuk diputuskan hanya berdasarkan kompromi non-teknis.
Taruhan PAD dan Kepercayaan Publik
Sebagai salah satu BUMD penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), arah kepemimpinan PT BSP akan sangat menentukan kondisi fiskal daerah ke depan.
Karena itu, publik kini tidak hanya menunggu siapa yang akan terpilih, tetapi juga bagaimana proses itu berlangsung.
Apakah seleksi ini akan melahirkan figur profesional yang mampu menjawab tantangan industri migas, atau justru memperkuat persepsi bahwa BUMD masih menjadi ruang kompromi kekuasaan?
Jawaban atas pertanyaan itu, kemungkinan besar akan terlihat dari satu hal: siapa yang akhirnya duduk di kursi Direktur PT BSP. (Garawn)
.