DERAKPOST.COM – Sebelumnya yang perlu diketahui, bahwa tulisan ini merupa bagian yang menyajikan ulasan sejarah untuk bisa menjelaskan akan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.
Diketahui bahwasa Ario Soejono mencetak sejarah sebagai orang Indonesia pertama menjabat sebagai menteri pemerintahan Negara Belanda. Putra asal Tulung Agung inipun dipercaya masuk ke dalam kabinet Perdana Menteri Pieter Sjoerd Gerbrandy pada 6 Juni 1942.
Dalam pengangkatan tersebut, Soejono ini dipercaya menjabat sebagai menteri tanpa departemen. Peristiwa ini menjadi momen yang sangat penting karena untuk pertama kalinya seorang tokoh Indonesia diberikan posisi resmi dalam jajaran pemerintahan tertinggi di Belanda.
“Saat bersejarah, karena sekarang untuk pertama kalinya seorang putra bangsa Indonesia menjadi anggota pemerintahan Belanda,” ungkap Gerbrandy dalam pidato kenegaraan yang disambut tepuk tangan meriah, seperti halnya dikutip dari laman CNBCIndonesia.
Menurut Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950 (2008), pengangkatan Soejono dimaksudkan untuk menekankan adanya ikatan nasib antara Belanda dan Indonesia.
Namun, jabatan tersebut bukan posisi menteri dengan departemen tertentu. Soejono menjabat sebagai menteri tanpa departemen. Karena itu, pengangkatannya dapat dilihat sebagai upaya pemerintah Belanda memasukkan orang Indonesia ke dalam koalisi pemerintahan.
Siapa Sebenarnya Ario Soejono?
Soejono lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886 dari keluarga berada. Ayahnya merupakan Bupati Tulung Agung. Latar belakang keluarganya itu, membuat Soejono tersebut mendapat kesempatan mengenyam pendidikan hingga kemudian berkarier di pemerintahan.
Ia memulai karier sebagai asisten wedana pada 1911. Yang kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Bupati Pasuruan pada 1915-1927. Ketika menjadi bupati itu, usianya yang tergolong masih muda, yakni sekitar 30 tahun.
Soejono juga terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota Volksraad, yang lembaga perwakilan pada zaman kolonial, Dan pada periode 1920-1930. Kecemerlangan karier membuat Soejono jadi salah satu pejabat diandalkan pemerintah kolonial.
Ia beberapa kali bolak-balik antara Belanda dan Jawa untuk halnya mengikuti berbagai seminar dan juga pelatihan. Namun, situasi berubah ini ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda pada 1942. Pemerintahan kolonial terancam bubar dan juga sejumlah pejabat meninggalkan Jawa.
Sebagaimana dipaparkan Poeze, Soejono kabur ke Australia bersama van Mook dan Loekman Djajadiningrat. Dari Australia, ia kemudian turut pergi ke London, tempat pemerintahan Belanda berada dalam pengasingan setelah Belanda diduduki Nazi Jerman.
Di London itulah Soejono kemudian masuk kabinet Gerbrandy. Meski diangkat menjadi menteri oleh pemerintah Belanda, Soejono ternyata tidak sekadar mengikuti keinginan negeri penjajah. Ia justru menggunakan posisinya untuk menyuarakan kepentingan Indonesia.
Selama menjadi menteri, Soejono memberi masukan mengenai tata negara Indonesia setelah perang berakhir. Ia menyatakan hal masyarakat Indonesia ingin memutuskan hubungan dengan Belanda.
“Untuk itu, Soejono menyatakan bahwasa masyarakat Indonesia ingin memutuskan hubungan dengan Negeri Belanda. Karena itu, menurut Soejono, pernyataan Belanda harus ada menjamin lahirnya kebersamaan sukarela dan ikatan ketatanegaraan,” tulis Poeze.
Menteri Tanah Jajahan van Mook itu, juga mengusulkan hubungan yang lebih setara antara negeri jajahan, termasuk Indonesia, dengan Belanda. Nantinya, wilayah jajahan akan memiliki kementerian dan parlemen masing-masing.
Namun, Soejono menilai gagasan tersebut belum cukup. “Untuk Soejono, itu saja tidak cukup. Menurutnya, Indonesia yang harus merdeka sepenuhnya,” ungkapnya Martin Bossenbroek dalam Pembalasan Dendam Diponegoro (2023).
Tuntutan tersebut ternyata tidak didengar oleh Gerbrandy dan serta anggota kabinet lainnya. Mereka menganggap hal tuntutan Soejono terlalu jauh. Ia bahkan mengulangi pernyataan tersebut hingga beberapa kali, tetapi tetap diabaikan.
Soejono pun tidak memilih mundur. Yakni tetap mempertahankan posisinya sambil menyuarakan hal kepentingan Indonesia. Namun, perjuangannya tidak berlangsung lama. Soejono pun kemudian terasingkan di London, meninggal dunia pada 5 Januari 1943. (Dairul)