PANGGILAN untuk kembali ada masa dalam hidup ketika hati terasa penuh, tetapi jiwa justru kosong.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Tawa masih bisa dipaksakan. Aktivitas terus dilakukan. Namun ketika malam tiba dan manusia kembali sendiri, ada ruang sunyi di dalam dada yang tak terisi apa pun.
Kegelisahan itu tidak selalu berbentuk tangis. Ia sering hadir sebagai lelah yang tidak jelas sebabnya, sebagai hampa yang tidak tahu harus diceritakan kepada siapa.
Pada titik inilah banyak orang mulai bertanya, meski lirih dan hampir berbisik kepada dirinya sendiri: “Ada apa dengan diriku?”
Pertanyaan itu bukan tanda kelemahan iman. Ia justru tanda bahwa hati belum mati. Karena hati yang mati tidak lagi bertanya. Ia hanya larut dan lupa.
Hijrah sering tidak datang dalam bentuk keberanian besar. Ia tidak selalu hadir sebagai tekad yang lantang atau perubahan yang drastis.
Hijrah lebih sering datang sebagai gelisah yang berulang, doa yang tak lagi bisa dipalsukan, dan rasa lelah terhadap dosa yang dulu terasa biasa.
Hijrah adalah panggilan lembut dari Allah ﷻ—memanggil hamba-Nya bukan karena mereka pantas, tetapi karena mereka butuh kembali.
Allah ﷻ berfirman:
اللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Yunus: 25)
Seruan Allah itu tidak selalu terdengar keras. Ia sering hadir sebagai kegelisahan yang membuat kita tidak lagi betah dengan diri kita yang lama. Dan justru di situlah rahmat-Nya bekerja.
Banyak orang menunda hijrah karena merasa belum siap. Merasa terlalu kotor.
Merasa terlalu jauh. Merasa terlalu rusak untuk kembali.
Padahal hijrah bukan hadiah bagi orang baik, melainkan jalan bagi orang yang ingin diperbaiki. Allah tidak menunggu hamba-Nya suci baru memanggilnya.
Allah memanggil justru agar mereka disucikan.
Allah ﷻ berfirman:
ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah: 118)
Ayat ini menyimpan rahasia besar dalam perjalanan hijrah:
bahkan keinginan untuk bertaubat pun adalah karunia dari Allah.
Jika hari ini hati terasa ingin berubah, itu bukan karena kita tiba-tiba menjadi baik, tetapi karena Allah sedang mendekat.
Para ulama tasawuf menjelaskan:
“Ketika Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, Dia hidupkan rasa tidak nyaman terhadap maksiat.”
Hijrah adalah kembali kepada kesadaran paling dasar:
bahwa hidup bukan sekadar berjalan, tetapi menuju.
Bahwa waktu bukan sekadar dihabiskan, tetapi dipertanggungjawabkan.
Bahwa hati ini diciptakan bukan untuk terus diisi dunia, melainkan untuk mengenal Rabb-nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukan sekadar penghiburan bagi pendosa. Ia adalah Pondasi hijrah.
Islam tidak dibangun di atas manusia yang suci, melainkan manusia yang jujur mengakui kelemahan dan mau kembali.
Hijrah bukan tentang menghapus masa lalu, tetapi tentang mengubah arah masa depan.
Sering kali seseorang takut memulai hijrah karena khawatir tidak sanggup konsisten. Takut jatuh lagi. Takut gagal. Takut tidak mampu istiqamah.
Padahal Allah tidak pernah meminta kesanggupan jangka panjang. Allah hanya meminta satu langkah hari ini.
Besok urusan lain. Lusa akan Allah uruskan kembali.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اثْنَتَيْنِ: طُولَ الْأَمَلِ وَاتِّبَاعَ الْهَوَى
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu.”
Hijrah memutus panjangnya angan-angan. Ia mengajak berhenti menunda.
Bukan karena hidup akan berakhir hari ini, tetapi karena kebaikan tidak pernah aman untuk ditunda.
Bab ini adalah undangan, bukan tuntutan.
Jika setelah membacanya hati terasa terusik, itu sudah cukup. Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk kembali.
Datanglah kepada Allah dengan hati yang retak—karena justru dari celah itulah cahaya hidayah masuk.
Dan setelah panggilan ini terdengar, ujian pertama pun muncul. Bukan dari orang lain, melainkan dari dalam diri sendiri:
dosa-dosa lama yang masih dicintai dan sulit dilepaskan.
Perjalanan ini tidak pernah melompat.
Setiap langkah lahir dari langkah sebelumnya. Setiap kesadaran tumbuh dari luka yang lebih dulu disadari.
Maka sebelum melangkah lebih jauh, izinkan hati menunduk sejenak—
menghela napas, dan bersiap memasuki fase hijrah berikutnya.
Penulis: UES AL JADID ABU NAJMI
FOUNDER YUK SEGERA HIJRAH
PIMPINAN MEJELIS ZIKIR/ILMU HAYATUL ISLAM