Dunning-Kruger Efek Paradoks Kebodohan Manusia

0 81

TEORI ini dipicu oleh sebuah kasus kriminal yang terjadi pada tahun 1995. Seorang pria bernama McArthur Wheeler merampok dua bank di Pittsburgh pada siang bolong tanpa masker dan tanpa penyamaran apa pun yang mengindikasikan upaya menghilangkan jejak. Hal ini tentu sangat memudahkan polisi untuk menangkap dirinya.

Ketika ditangkap, Wheeler terkejut karena polisi berhasil mengidentifikasinya melalui rekaman CCTV. Saat diinterogasi polisi, ia menggumam, “Tapi saya sudah memakai jusnya.” Rupanya, Wheeler percaya bahwa mengoleskan jus lemon ke wajahnya akan membuatnya tidak terlihat oleh kamera keamanan karena ia berpikir hal tersebut mirip dengan cara kerja tinta rahasia.

Kombinasi antara ketidaktahuan yang parah dan kepercayaan diri yang buta inilah yang menarik perhatian psikolog sosial David Dunning dan Justin Kruger. Kemudian, teori tersebut dikenal sebagai “Efek Dunning-Kruger”, yang meneliti fenomena psikologis dimana seseorang dengan kemampuan rendah dalam suatu tugas justru merasa sangat kompeten, sementara mereka yang ahli cenderung meragukan kemampuan diri mereka sendiri.

Mengapa Penelitian Ini Dilakukan?

Dunning dan Kruger ingin menguji hipotesis bahwa dalam banyak bidang kehidupan, orang yang tidak kompeten menderita “beban ganda”. Pertama, kurangnya keahlian membuat mereka sering melakukan kesalahan secara berulang. Kedua, kurangnya metakognisi menyebabkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa mereka sedang berbuat kesalahan.

Dengan bangunan hipotesis diatas, penelitian ini akhirnya berhasil membuktikan bahwa pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu dengan benar adalah pengetahuan yang sama yang juga dibutuhkan untuk menilai apakah sesuatu itu benar. Sedikit rumit untuk memahaminya, bukan? Karena itu, Dunning-Kruger menjelaskannya melalui sebuah grafik.

Grafik Dunning-Kruger: Paradoks Kebodohan Manusia

Grafik ini memetakan hubungan antara Kepercayaan Diri (Confidence) dan Kompetensi (Knowledge/Skill) dengan penjelasan sebagai berikut:

Peak of “Mount Stupid” (Puncak Kebodohan)

Seseorang yang mengetahui sedikit hal langsung merasa paling tahu segalanya. Kepercayaan diri ini disebut sebagai titik puncak kebodohan, meski kompetensinya sangat rendah. Pepatah kita menyebutnya, “tong kosong nyaring bunyinya”.

Valley of Despair (Lembah Keputusasaan)

Ketika seseorang mulai belajar lebih banyak, ia menyadari betapa rumitnya suatu bidang. Kepercayaan dirinya pun anjlok dan ia dipatahkan oleh kegagalan.

Slope of Enlightenment (Tanjakan Pencerahan)

Seiring dengan keinginan untuk terus belajar, kemampuan dan keahlian bertambah secara nyata. Kepercayaan diri mulai tumbuh kembali secara perlahan. Ini adalah kepercayaan diri yang realistis, dan seseorang mulai menuju kestabilan produktivitas serta pintu kesuksesan.

Penutup

Dalam teori “the leap of faith” dari perspektif pertumbuhan, ada benarnya bahwa ketidaktahuan memberikan semacam “keberanian buta” yang diperlukan untuk memulai sesuatu. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena banyak orang justru lumpuh oleh ketakutan (analysis paralysis) dan tidak pernah memulai apa pun.

Pada titik “Mount Stupid”, karena belum mengetahui tantangan di depan, manusia memiliki kepercayaan diri yang maksimal. Rasa percaya diri ini bertindak sebagai bahan bakar untuk mengambil langkah pertama. Ketidaktahuan melindungi manusia dari rasa gentar yang prematur.

Ketidaktahuan bukanlah hal yang salah selama itu merupakan titik berangkat, bukan titik henti. Fase ini harus dimaknai sebagai fase belajar. Keberanian yang muncul dari ketidaktahuan membawa manusia masuk ke dalam proses. Setelah masuk, ilusi angan-angan akibat ketidaktahuan perlahan runtuh dan digantikan oleh pengetahuan nyata menuju fase kedewasaan. Fase inilah yang disebut sebagai continuous improvement.

Dengan demikian, penelitian Dunning-Kruger bukan bertujuan mengejek orang yang tidak tahu, melainkan menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan akan secara otomatis memperbaiki persepsi diri menuju sebuah pencerahan. ***

Penulis: Denni Hidayat adalah warga Riau bermastautin di Jakarta.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.