Dua Anggota DPR dari PKS, Syahrul Aidi dan Hendry Munief Dorong Mahasiswa Unri Bangun Bisnis

0 53

DERAKPOST.COM – Anggota DPR RI Syahrul Aidi Maazat bersama Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief tampil pada forum Summit Event Legislative Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Riau (Unri), pada hari Sabtu (19/9/2026).

Bayang-bayang halnya tinggi pada angka pengangguran terdidik, hal itu menuntut diharap perubahan pola pikir di kalangan akademisi. Mematahkan stigma bahwa sarjana hanya dipersiap menjadi pekerja. Itu dipapar dua orang legislator Senayan menantang mahasiswa untuk membangun fondasi ekonomi jauh sebelum kenakanya toga kelulusan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam forum Summit Event Legislative Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Riau (Unri), Sabtu (19/9/2026). Mengusung tema penguatan UMKM dan kemandirian ekonomi nasional, Anggota DPR RI Syahrul Aidi Maazat bersama Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief membedah realitas persaingan dunia kerja bagi para lulusan perguruan tinggi.

Syahrul Aidi menyoroti celah dalam sistem pendidikan yang dinilainya lebih dominan mencetak tenaga kerja untuk pihak lain, alih-alih melahirkan kreator lapangan pekerjaan. Kondisi ini berbenturan langsung dengan fakta di lapangan, di mana pertumbuhan serapan tenaga kerja kerap tertinggal dari lonjakan jumlah lulusan sarjana setiap tahunnya.

“Kurikulum kita banyak dipersiapkan untuk menjawab soal ujian, tetapi belum cukup dipersiapkan untuk menghadapi soal kehidupan. Bagaimana kita bisa berbicara tentang kemandirian kalau kita sendiri belum mandiri?” tegas Syahrul di hadapan para peserta dalam keterangan tertulis.

Merespons ketimpangan tersebut, ia mendorong kelompok intelektual muda untuk berani merintis usaha sedini mungkin. Selain menjadi pelaku bisnis, mahasiswa juga didorong mengambil peran taktis sebagai penghubung antara kelompok masyarakat pemilik sumber daya dan pihak yang membutuhkan akses sumber daya tersebut.

Melengkapi pemaparan itu, Hendry Munief menyoroti langkah teknis dalam mengeksekusi ide bisnis. Ia membedah instrumen penguatan kelembagaan bagi kelompok usaha mikro, yang dinilainya menjadi salah satu kunci agar pelaku usaha rintisan lebih mudah mendapatkan akses program pembinaan dan pendampingan dari pemerintah.

Lebih jauh, Hendry mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam penantian kondisi ideal. Kontribusi terhadap pembangunan bangsa, menurutnya, tidak mensyaratkan kepemilikan modal materi yang besar pada tahap awal. “Memulai bisnis, start from zero, start from now. Mulai dari apa yang kita miliki. Bisa keahlian, keberanian hingga kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak,” papar Hendry.

Ia menguraikan, mahasiswa sejatinya diuntungkan dengan berbagai modal awal yang acap kali tidak disadari. Jaringan pertemanan kampus, kapasitas pengetahuan, hingga keluwesan dalam menjalin relasi lintas sektor merupakan aset fundamental yang memadai untuk memulai sebuah entitas bisnis dari nol.  (Redaksi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.