Polemik Iuran di SMAN 1 Pekanbaru yang Berdalih Kesepakatan Wali Murid

DERAKPOST.COM – Polemik terkait iuran atau sumbangan di lingkungan sekolah seharusnya tak berhenti pada pertanyaan sederhana: siapa yang meminta uang dan siapa yang menetapkan nominal?

Ada persoalan lain itu, tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu bagaimana pada mekanisme pengumpulan dana itu, dapat berdampak secara sosial atau psikologis terhadap peserta didik, khususnya siswa berasal dari keluarga halnya keterbatasan ekonomi.

Persoalan ini juga menjadi relevan ketika terdapat informasi mengenai sejumlah pembayaran dengan nominal ratusan ribu rupiah per siswa di lingkungan SMA Negeri 1 Pekanbaru.

Pihak sekolah di konfirmasi sebelumnya itu, telah menjelaskan bahwa untuk iuran paguyuban maupun kas kelas, sekolah tidak menetapkan nominal dan juga tidak memberikan arahan ke orang tua untuk membayar jumlah tertentu.

Penjelasan tersebut tentu harus dihormati dan menjadi bagian penting dalam halnya pemberitaan yang berimbang. Tapi sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, itu masih ada pertanyaan yang patut diajukan:

Apakah mekanisme pengumpulan dana tersebut benar-benar tidak menimbulkan tekanan sosial kepada siswa yang orang tuanya tidak mampu berkontribusi?

Bayangkan seorang siswa berada di dalam kelas ketika teman-temannya mengetahui bahwa orang tua mereka ikut memberikan sejumlah uang untuk suatu kegiatan.

Sementara orang tua siswa tersebut tidak mampu memberikan kontribusi yang sama. Secara administratif mungkin tidak ada kewajiban bagi siswa tersebut untuk membayar.

Namun secara sosial, situasinya bisa saja berbeda. Anak dapat merasa malu, minder, tidak nyaman, dan takut dianggap berbeda, atau memilih diam ketika teman-temannya membicarakan kegiatan itu membutuhkan kontribusi orang tua.

Ini bukan berarti setiap sumbangan pasti menimbulkan tekanan psikologis. Namun, mekanisme pengumpulan dana di sekolah perlu dirancang itu sedemikian rupa agar peserta didik itu tidak menjadi pihak yang menanggung konsekuensi sosial

Anak Tidak Boleh Menjadi Korban Perbedaan Kemampuan Ekonomi

Sekolah merupakan tempat seluruh anak mendapatkan hal kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ada siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat baik. Ada pula siswa yang orang tuanya ini harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keduanya itu, berada di ruang kelas sama, belajar dari guru yang sama dan memiliki hak yang sama untuk halnya itu mendapat pendidikan. Karena itu, untuk kemampuan ekonomi orang tua yang seharusnya tidak menjadi ukuran status sosial seorang anak di sekolah.

Persoalannya bukan semata-mata apakah orang tua boleh memberikan sumbangan atau tidak. Tetapi yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana sumbangan dikumpulkan, bagaimana halnya informasi pembayaran, disampaikan, siapa yang mengetahui, dan apakah mekanisme berpotensi membuat siswa merasa berbeda. (Redaksi)

iuranKesepakatanPekanbarupolemikSMAN
Comments (0)
Add Comment