Amien Rais Peringatkan Bahaya Manuver Politik Jokowi, Singgung Isu Pilpres Dipercepat

0 54

DERAKPOST.COM – Amien Rais, dalam hal pernyataan memperingatkan akan potensi gejolak politik nasional diakibat manuver yang dikaitkan dengan Jokowi dan beserta  lingkarannya. Bahkan dia turut mengungkit kemungkinan terulangnya gerakan people power, seperti pada tahun 1998.

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais, yang melontarkan kritik keras pada mantan Presiden ke-7 RI Jokowi. Hal peringatan bernada tinggi disampaikannya di tengah memanas polemik pernyataan Ketua Umum PROJO, Budi Arie Setiadi, yang sempat menggulirkan wacana kemungkinan Pemilihan Presiden (Pilpres) dipercepat tanpa harus menunggu hingga 2029.

“Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya,” kata Amien, seperti dikutip dari laman Fajar, Kamis (5/11/2026).

Mantan Ketua MPR RI itu menilai bahwa Jokowi masih berupaya keras untuk mempertahankan pengaruh politik meskipun telah resmi menanggalkan jabatannya sebagai kepala negara. Ia bahkan menggambarkan mantan presiden tersebut sebagai figur yang sulit melepaskan diri dari pusaran kendali kekuasaan.

“Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas,” ujar Amien.

Menurut Amien, ambisi untuk mempertahankan pengaruh itu tak lepas dari kepentingan politik keluarga agar tetap bercokol di lingkaran puncak kekuasaan nasional.

“Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan,” katanya.

Lebih lanjut, Amien menyoroti pernyataan Budi Arie terkait wacana percepatan Pilpres. Meski Budi Arie telah menyampaikan permohonan maaf usai menuai sorotan publik, Amien menilai langkah tersebut tidak cukup untuk meredam kecurigaan masyarakat yang telanjur menduga adanya skenario politik besar di balik wacana tersebut.

“Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya merasa itu sangat mengerikan,” ungkap Amien.

“Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” tambahnya.

Amien memperingatkan, situasi politik di tanah air bisa berjalan di luar kendali apabila rekayasa politik oleh para pendukung Jokowi terus dipaksakan. Ia lantas menarik garis perbandingan dengan gelombang Reformasi 1998 silam.

“Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin keruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali,” tuturnya.

“Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar,” lanjut Amien.

Menutup keterangannya, Amien menilai langkah-langkah politik Jokowi belum menunjukkan tanda-tanda mereda, seraya menyerukan pentingnya kewaspadaan nasional demi masa depan demokrasi Indonesia.

“Apakah Jokowi sudah edan? Jokowi tidak edan tetapi nekat dan kenekatannya belum sampai titik saturasi. Titik jenuh belum, masih terus-terus berpencaksilat politik yang berbahaya buat kelanjutan Indonesia,” pungkasnya.  (Dairul)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.