LAMR Meranti Desak Polda Riau Bongkar Jaringan TPPO

0 77

DERAKPOST.COM – Saat ini ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di wilayah perbatasan kembali menjadi sorotan. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti secara tegas menyatakan dukungan kepada Polda Riau, namun sekaligus mendesak langkah konkret untuk membongkar jaringan yang diduga memanfaatkan celah di kawasan pesisir dan perbatasan.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum DPH LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, S.Sos., M.Si., saat menerima kunjungan Panit III POA Dit Intelkam Subdit Kamneg Polda Riau, Iptu Anjaswan, S.H., bersama rombongan di Balai Adat LAMR, Jalan Dorak, Selatpanjang, Senin (6/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, LAMR secara terbuka menyoroti posisi geografis Kepulauan Meranti yang dinilai sangat rawan disusupi praktik perdagangan orang, terutama melalui jalur laut yang sulit diawasi secara maksimal.

“Ini bukan lagi potensi, tapi ancaman nyata. Wilayah perbatasan seperti Meranti bisa menjadi jalur strategis bagi jaringan perdagangan orang jika tidak diawasi secara serius, ”tegas Datuk Seri Afrizal Cik.

Ia mengingatkan, kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang rentan kerap dijadikan pintu masuk oleh oknum perekrut, yang kemudian terhubung dengan jaringan lebih besar di luar daerah bahkan lintas negara.

LAMR pun meminta agar upaya pemberantasan TPPO tidak berhenti pada sosialisasi semata, tetapi diikuti dengan penindakan tegas terhadap pelaku, termasuk jika terdapat jaringan terorganisir yang bermain di balik layar.

“Kami mendukung penuh Polda Riau, tapi kami juga berharap ada langkah nyata. Jika memang ada jaringan, bongkar sampai ke akarnya, ”tegasnya.

Sementara itu, Iptu Anjaswan mengakui bahwa wilayah kepulauan dan perbatasan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap praktik TPPO. Ia menegaskan pentingnya sinergi dengan tokoh adat sebagai garda terdepan di masyarakat.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran LAMR sangat penting untuk mendeteksi dan mencegah sejak dini. Ini harus menjadi gerakan bersama, ”ujarnya.

LAMR Kepulauan Meranti menyatakan siap turun langsung ke masyarakat untuk melakukan sosialisasi dan pengawasan sosial, sebagai langkah awal memutus rantai perdagangan orang dari tingkat bawah.

“Kami tidak ingin anak kemenakan kami jadi korban. Ini menyangkut marwah dan masa depan generasi, ”tutup Afrizal.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh adat dan pengurus LAMR, berlangsung dalam suasana serius namun konstruktif, dengan satu pesan kuat: perbatasan tidak boleh lagi menjadi celah bagi kejahatan perdagangan orang. (Redaksi)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.