Soal Wisman Bule Berbikini di Objek Wisata Danau Rusa, Datuk Tandiko Nilai Dispar Kampar Tak Punya Konsep

0 75

DERAKPOST.COM – Adanya video viral yang menunjukkan dari wisatawan mancanegara (wisman) berbikini saat berkunjung ke objek wisata Danau Rusa, PLTA Koto Panjang, hal itu memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh adat Kabupaten Kampar.

Seperti disampaikan Sawir Datuk Tandiko, salah satu pemuka adat Kampar, meminta pemerintah daerah segera memperjelas konsep pariwisata agar tidak berbenturan dengan norma agama dan budaya setempat.

Datuk Tandiko menegaskan bahwa secara pribadi dan lembaga adat, dirinya tidak pernah menolak kehadiran wisatawan, termasuk turis asing. Tapi, ia mengakui kehadiran wisatawan mancanegara di Danau Rusa merupakan bukti adanya potensi wisata yang besar di daerah Kabupaten Kampar.

“Intinya kami selaku tokoh adat tidak pernah menolak wisata. Bahkan saya mendukung supaya wisata kita berkembang dan bermanfaat untuk ekonomi anak kemenakan,” ujar Datuk Tandiko kepada awak media, Selasa (10/2/2026).

Meski mendukung, Datuk Tandiko memberikan catatan kritis. Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Kampar memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan daerah wisata lain. Kampar dikenal sebagai daerah yang kental dengan nilai religius, tradisi suluk, dan ziarah.

“Kalau ingin mengembangkan wisata, tentu harus melihat keadaan daerah itu. Tidak bisa disamakan dengan daerah lain Daerah kita ini daerah beradat, daerah beragama,” tegasnya.

Ia menyayangkan jika demi mengejar kunjungan wisatawan, nilai-nilai lokal justru diabaikan. Menurutnya, pengembangan wisata harus selaras dengan identitas Kampar yang religius.

Terkait insiden turis berbikini tersebut, Datuk Tandiko menyentil Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar yang dinilai belum memiliki konsep pengembangan wisata yang matang dan terarah.

“Selama inikan hanya mengembangkan saja, tapi tidak ada konsep yang jelas. Apa objeknya, siapa sasarannya? Jangan asal orang datang saja,” tuturnya.

Ia menyarankan agar ada aturan yang jelas atau semacam ‘lokalisir’ dari perilaku, jika memang tujuannya ingin menyasar turis mancanegara, tanpa harus pertontonkan hal-hal yang melanggar norma di ruang publik yang bisa dilihat masyarakat luas.

“Bagaimana kita membungkus wisata itu tanpa mengabaikan kearifan lokal. Jangan dibuka begitu saja (bebas), kita ini punya agama dan adat. Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi contoh yang tidak baik ke depan,” tambah Datuk Tandiko.

Datuk Tandiko berharap Dinas Pariwisata segera menyiapkan sarana dan prasarana serta regulasi yang sesuai dengan nama besar Kampar sebagai Serambi Mekkah-nya Riau. Kedepannya diharap instansi terkait menyiapkan konsep yang sesuai dengan norma-norma.  (Hafizh)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.