Nasihat Itu Memang Harus Menyinggung Perasaan

0 54

NASIHAT (bentuk tidak baku: nasehat) adalah ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, dan teguran) yang baik.

Siapa pun kita pasti mempunyai “pedal gas” berupa ambisi, ego, emosi, dan nafsu yang sering kali membuat kita berjalan terlalu laju tanpa memikirkan konsekuensinya. Di sinilah nasihat berfungsi sebagai braking system.

Pada kendaraan, braking system (sistem pengereman) berfungsi untuk mengontrol laju kendaraan dengan cara memperlambat atau menghentikan putaran roda secara aman dan terkendali.

Apa yang bakal terjadi bila kendaraan tak punya rem, dapat kita bayangkan sendiri akibatnya. Pasti banyak terjadi kecelakaan.

Dalam ajaran Islam, saling menasihati merupakan pilar penting dalam menjaga keimanan dan bentuk nyata dari rasa kasih sayang sesama muslim.

Saling menasihati juga merupakan bagian dari kewajiban dan tanda kepedulian seorang mukmin terhadap saudaranya untuk menyelamatkannya dari kerugian.

“Seluruh manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihat dalam kebenaran dan kesabaran.”

Belum lama ini kami membaca sebuah aforisme di media sosial: “Nasihat itu memang harus menyinggung perasaan, jika menyenangkan itu hiburan”.

Benarkah nasihat itu memang harus menyinggung perasaan?

Secara psikologis dan kultural, nasihat memang sering kali terasa tak menyenangkan. Tak mengenakkan.

Fakta bahwa nasihat terasa “pahit” bukan sekadar perasaan subjektif seseorang, melain sebuah fenomena nyata yang diakui sains modern maupun filsafat klasik.

Seperti rasa obat pada umumnya, nasihat pun demikian, tak selalu membuat hati nyaman. Terkadang ia berasa seperti rasa empedu, menusuk ego, bahkan membuat kita tersinggung dan sangat tersinggung.

Esensi nasihat memang bukan untuk menyenangkan telinga, melainkan untuk menyadarkan jiwa. Karena, tak semua yang membuat kita nyaman itu benar. Begitu pula sebaliknya, tidak yang membuat kita tersinggung itu salah.

Sebuah kalimat yang pernah kami baca: “Kita akan sulit berkembang jika hanya ingin mendengar hal-hal yang menyenangkan. Pasalnya, pertumbuhan acap kali dimulai ketika kita berani menerima sesuatu yang tak ingin kita dengar.”

Maka dan sesuai maknanya, kalau sesuatu yang disampaikan maksudnya tidak lain dari untuk menyenangkan perasaan, itu namanya hiburan. Sedangkan jika tujuannya buat memperbaiki, itulah nasihat.

Jadi, jangan buru-buru membenci orang yang menegur kita. Bisa jadi, apa yang terasa getir hari ini justru menjadi penawar bagi kesalahan yang selama ini yang tak kita sadari.

“Bersihkan hati agar bisa menerima kebenaran, karena selembut apa pun nasihat akan terasa tajam bagi yang belum siap menerima kebenaran”, demikian kalimat lanjutan aforisme yang kami baca tersebut.

Wallahu a’alam bisa-sawab.

Bengkalis, Ahad, 25 Oktober 2026

Penulis: Johansyah Syafri

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.