Ayatulloh Sempat Dicibir karena Tak Punya Modal, Kini Tukang Gorengan Ini Terpilih Jadi Kades Pahlawan Setia Bekasi
DERAKPOST.COM – Sebelum halnya terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ayatulloh (41 tahun), yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan dan kopi. Telah hampir 10 tahun, berjualan itu dari pukul 15.00 WIB hingga subuh untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Warung sederhana tempatnya berjualan ini ternyata bukan hanya jadi sekadar sumber penghasilan. Di tempat itu, Ayatulloh kerap berbincang dengan warga datang membeli gorengan atau kopi. Dari obrolan tersebut, ia mendengar halnya berbagai keluhan dan persoalanya dihadapi warga. Lambat laun, sejumlah warga mulai mendorong dengan untuk mencalonkan diri Ayatulloh sebagai hal Kades.
Ia mengaku, dorongan yang datang setelah warga melihatnya sering berinteraksi dan mendengarkan berbagai halnya persoalan masyarakat. “Selama hampir 10 tahun saya dagang di warung ini, banyak saudara yang berbicara. Katanya, udah nyalon (mencalonkan diri menjadi Kepala Desa Pahlawan Setia) aja lu besok. Jadi istilahnya saya diusung sama warga,” ujar Ayatulloh, kepada wartawan.
Dikutip dari laman Kompas. Ayatulloh pada kesempatan itu mengatakan dari berjualan gorengan dan kopi, maka bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 200.000-Rp 300.000 per hari. Sebelum berjualan gorengan dan kopi, ia pun sempat bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, ketika hendak dimutasi ke Kalimantan, ia memilih tidak mengambil keputusan tersebut.
Pilihan itu membuatnya harus berhenti bekerja tanpa mendapatkan pesangon. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ayatulloh kemudian bekerja sebagai pembantu tukang bangunan atau kenek. Setelah itu, ia memutuskan berjualan gorengan dan kopi hingga usaha tersebut bertahan hampir 10 tahun.
Pada 2018, Ayatulloh mendapat kesempatan bekerja di Pemerintah Desa Pahlawan Setia. Ia dipercaya menjadi staf perencanaan pembangunan desa. Meski sudah bekerja di pemerintahan desa, Ayatulloh tetap menjalankan usaha gorengan dan kopinya untuk menambah penghasilan keluarga. Rutinitas tersebut membuatnya tetap dekat dengan warga.
Selain bekerja di kantor desa, berinteraksi langsung dengan masyarakat setiap kali berjualan. Dari warung sederhana itu pula, keinginan Ayatulloh untuk ikut membangun Desa Pahlawan Setia semakin kuat. Sebut dia, dorongan untuk maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pahlawan Setia tidak hanya datang dari warga. Ayatulloh juga mendapat dukungan dari orangtua dan keluarga.
Dukungan tersebut membuatnya berani mengikuti Pilkades Pahlawan Setia. Namun, keputusan Ayatulloh untuk maju sebagai calon kepala desa tidak selalu mendapat respons positif. Ia mengaku sempat diragukan karena tidak memiliki modal besar. Pekerjaannya sebagai penjual gorengan juga menjadi bahan cibiran.
“Saya dikata-katain enggak punya uang, kok tukang gorengan nyalon lurah, nanti kalau jadi lurah bisa apa benahin desa,” katanya. Yang tak hanya dianggap tidak memiliki modal, Ayatulloh juga mengaku pernah diminta menjual rumah untuk bisa membiayai pencalonannya.
Namun, perkataan tersebut tidak membuat mundur. Ayatulloh yang justru menjadikan cibiran itu sebagai dorongan untuk tetap maju dalam Pilkades. Malah itu menjadi motivasi buat makin semangat calonkan diri sebagai kades. Setelah hal mengikuti sejumlah saksi dan proses pemilihan yang ketat, Ayatulloh kemudian terpilih menjadi Kepala Desa Pahlawan Setia untuk periode 2026-2034.
Selama sekitar enam bulan melakukan sosialisasi dan menemui warga, Ayatulloh mengaku semakin banyak mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat. Salah satunya terkait penyaluran bantuan. Ia mengatakan, ada warga yang berharap bantuan lebih diprioritas ke masyarakat benar-benar membutuhkan. Selain halnya bantuan, persoalan tempat pemakaman umum (TPU) juga menjadi salah satu aspirasi yang banyak disampaikan warga, terutama mereka yang tinggal di area perumahan.
Menurut Ayatulloh, sebagian warga perumahan kesulitan mencari lahan pemakaman ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Aspirasi tersebut kemudian masuk dalam rencana yang ingin ia perjuangkan setelah memimpin Desa Pahlawan Setia. “Ke depan saya akan prioritaskan pengadaam makam umum dan saluran drainase,” ungkapnya.
Di balik keputusannya maju sebagai kepala desa, ada pesan dari sang ayah yang terus diingat Ayatulloh. Sebelum pemilihan, ayahnya berpesan agar ia tidak menyalahgunakan anggaran desa apabila terpilih. “Nanti kalau udah jadi kepala desa, uang yang masuk ke mulut lu dan anak bini lu jangan coba-coba makan dari uang anggaran,” kata Ayatulloh menirukan pesan ayahnya.
Ayatulloh mengatakan, pesan tersebut kemudian disepakati bersama. Ia menilai anggaran desa harus digunakan kembali untuk kepentingan masyarakat karena bersumber dari uang yang dibayarkan warga melalui berbagai kewajiban. Setelah terpilih menjadi kepala desa, Ayatulloh menyadari ada pekerjaan yang harus ia tinggalkan.
Ia tidak lagi bisa menghabiskan waktu setiap sore hingga dini hari untuk berjualan seperti sebelumnya Ayatulloh mengatakan, dirinya rela kehilangan penghasilan agar dapat fokus menjalankan tugas sebagai kepala desa. “Itu rela saya tinggalin, demi buat pemerintahan lebih baik lagi dari yang kemarin,” katanya.
Meski pun demikian, Ayatulloh tidak ingin usaha yang selama bertahun-tahun sudah menjadi sumber penghidupan keluarganya berhenti begitu saja. Makanya, berencana mengembangkan usaha gorengan sebagai salah satu kegiatan ekonomi masyarakat melalui program UMKM desa. Yang nanti itu, anggarannya ada dari pusat. Nanti kita alokasikan namanya BUMDes, ketahanan pangan.
Ayatulloh mengatakan dirinya prioritaskan sejumlah persoalan dasar di desa. Seperti infrastruktur, jalan, drainase, penerangan jalan, dan persoalan sampah yang menjadi beberapa hal ingin dibenahinya. Menurut dia, kondisi drainase tersumbat menjadi salah satu persoalan dirasakan warga. Hal itu dirinya akan turunl angsung ke setiap wilayah dan melihat persoalan. (Dairul)