KUKERTA Mahasiswa Unri Laksanakan Praktik Pemijahan Ikan Lele Bersama Warga Desa Pasir Baru di Rohul
DERAKPOST.COM – Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) mahasiswa Universitas Riau (Unri) melaksana program kerja unggulan praktik pemijahan ikan lele di masyarakat, tepatnya kediaman seorang pembudidaya yaitu Sutarno, Desa Pasir Baru, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).
Kegiatan bimbinganya Dosen Pembimbing Lapangan Fitri Humairoh, S.E, M.Ak. Hal ini bertujuanya memberi edukasi dan praktik langsung kepada pembudidaya ikan agar mampu melakukan pemijahanya ikan lele secara mandiri. Diharap itu, dapat kurangi ketergantungan terhadap pembelian bibit dari luar daerah.
Program tersebut dilaksana mahasiswa yang terdiri Aulia Agustina, Dinda Afrina, Fania, Karin Aqila Zahra, Habibie Fabian Ramadhani Mandalim, Mutiara Azahra, Nadia Oktaramadhani, Puan Shabita, Putri Syahira, Muhammad Taqiyuddin Dzaky, dan Zahra. Ini bertempat di Desa Pasir Baru.
Ketua Kelompok KUKERTA Habibie Fabian Ramadhani Mandalim, menjelaskan bahwa program tersebut dipilih karena Desa Pasir Baru ini memiliki potensi mendukung untuk pengembangan budidaya ikan lele. Selain memiliki ketersediaan air dan lahan yang memadai, masyarakat juga telah mengenal usaha budidaya ikan.
Hal tingginya harga bibit dan keterbatasan ketersediaan bibit di pasaran. Tentu semua itu menjadi kendala dihadapi pembudidaya.
“Program ini yang kami pilih karena melihat potensi Desa Pasir Baru cukup besar untuk budidaya ikan lele. Selain memiliki sumber daya mendukung, masyarakat juga cukup familiar budidaya ikan,” katanya.
Dikatakan dia, kendala yang dihadapi saat ini adalah harga bibit relatif mahal dan juga terkadang sulit diperoleh. Melalui kegiatan ini, tentu berharap pada masyarakat dapat menghasilkan bibit sendiri, sehingga tidak lagi bergantung pada pasokannya dari luar, bahkan dapat menjadi peluang tingkatkan perekonomian masyarakat.
Pada kegiatan tersebut, tiga mahasiswa Program Studi Perikanan Universitas Riau, yakni Karin Aqila Zahra, Aulia Agustina dan Putri Syahira, memandu hal pembudidaya dalam praktik pemijahan itu menggunakan metode pemijahan alami. Kegiatan diawali dengan pemilihan induk jantan dan betina yang telah matang gonad.
Yang kemudian dilanjutkan pada persiapan kolam melalui pembersihan, penjemuran kolam, pemasangan kakaban berbahan ijuk sebagai media tempat menempelnya telur. “Ini metode pemijahan alami dipilih karena lebih mudah diterapkan oleh masyarakat. Meskipun membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga hari,” kata Karin.
Dia mengatakan, memang itu akan lebih lama dibandingkanya metode pemijahan buatan, tapi metode ini tidak memerlukan penggunaan hormon maupun pada biaya tambahan yang relatif besar. Selain itupun, katanya, pemijahan buatan membutuhkan ketepatan waktu sangat presisi sehingga pelaksanaannya lebih sulit diterapkan oleh masyarakat.
Salah seorang pembudidaya ikan lele yang berada di Desa Pasir Baru, Sutarno, dengan tegas mengatakan selama ini memperoleh bibit dengan cara membeli lagi. Dikatakan dia, harga bibit yaitu berkisar antara Rp200 hingga Rp400 per ekor, dan terkadang sulit diperoleh. Dia mengikuti kegiatan tersebut yaitu agar dapat memproduksi bibit secara mandiri.
Sementara itu, Agus Sugeng selaku Kepala Desa Pasir Baru, meapresiasi pelaksanaan program praktik pemijahan ikan lele yang diinisiasi mahasiswa Unri ini. Menurutnya, kegiatan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena membantu menjawab permasalahan ketersediaan bibit ikan lele yang selama ini diketahui menjadi kendala bagi pembudidaya. (Berry)