Wow… Terdata 280 Keluarga di Kabupaten Meranti Memilih Tolak Bantuan Sosial dari Pemerintah

0 69

DERAKPOST.COM – Mayoritas, warga yang berada di Kabupaten Meranti masih masuk dalam data catatan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Tetapi anehnya ini terdapat adanya ratusan keluarga memilih keluar dengan secara sukarela dari daftar penerima bantuan pemerintah.

Seperti halnya diinformasikan data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3AP2KB) Kepulauan Meranti mencatat, hingga Desember 2025, sebanyak 167.676 jiwa masuk dalam kelompok Desil 1 hingga 5 pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Jumlah masuk dalam kategori masyarakat miskin hingga rentan miskin. Sementara warga yang masuk kategori relatif mampu (Desil 6 hingga 10) hanya 41.228 jiwa. Tapi
di tengah angka tersebut, ada tercatat 280 keluarga memilih melakukan graduasi mandiri, atau mengundurkan diri dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM) meski masih tercatat dalam kelompok desil penerima bantuan.

“Graduasi ini adalah keluarga yang sebelumnya masuk Desil 1 sampai 5 dan berhak menerima bantuan, tetapi memilih keluar secara mandiri,” kata Kepala Dissos P3AP2KB Kepulauan Meranti, Rokhaizal, didampingi Kabid Sosial Hasbul Munzir kepada wartawan yang dikutip dari laman Riaupos.

Langkah ratusan keluarga ini dinilai mencerminkan munculnya kesadaran dan kemandirian ekonomi di sebagian masyarakat, meskipun secara umum angka ketergantungan terhadap bantuan sosial masih tergolong tinggi.

Dari total penduduk desil rendah tersebut, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari kelompok Desil 1 sampai 5 tercatat sebanyak 18.949 jiwa, sementara dari Desil 6 hingga 10 hanya 55 jiwa. Selain itu, penerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) di Meranti mencapai 47.374 jiwa.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat masih bergantung pada intervensi negara untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama di sektor pangan dan kesehatan.

Rokhaizal merinci, Kecamatan Tebing Tinggi menjadi wilayah dengan jumlah graduasi mandiri tertinggi, yakni 78 keluarga, disusul Kecamatan Rangsang sebanyak 67 keluarga. Kecamatan Tebing Tinggi Barat tercatat 34 keluarga, Rangsang Barat dan Pulau Merbau masing-masing 29 keluarga, serta Rangsang Pesisir sebanyak 18 keluarga.

Sementara Kecamatan Merbau tercatat 17 keluarga, Kecamatan Tasik Putri Puyu sebanyak 7 keluarga, dan Kecamatan Tebing Tinggi Timur menjadi yang terendah dengan hanya 1 keluarga yang memilih keluar dari daftar penerima bantuan.

“Ini menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat mulai berupaya mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan, meskipun secara keseluruhan jumlah warga yang membutuhkan perlindungan sosial masih sangat besar,” ujarnya.

Fenomena graduasi mandiri ini sekaligus menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Di satu sisi menunjukkan adanya keberhasilan pemberdayaan pada kelompok tertentu, namun di sisi lain menegaskan bahwa tantangan utama Meranti masih terletak pada tingginya jumlah penduduk dalam kategori miskin dan rentan miskin yang memerlukan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar bantuan bersifat sementara. (Tansyam)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.