Soal Kemunculan Harimau Sumatera di Taman Nasional Zamrud, BBKSDA Riau: Jadi Sinyal Ekosistem Masih Sehat

0 122

DERAKPOST.COM – BBKSDA Riau saat mengecek lokasi kemunculan Harimau Sumatera di kawasan Taman Nasional Zamrud, di Kabupaten Siak. Hal tersebut pasca viral video di media sosial, serta memantik perhatian publik.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran akan potensi konflik satwa liar dengan manusia. Maka BBKSDA Riau ini turun memastikan, satwa yang terekam pada video tersebut tak keluar dari habitatnya, hal melainkan masih berada di kawasan konservasi Taman Nasional Zamrud.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono menegaskan, hasil identifikasi menunjukkan harimau tersebut merupakan Panthera tigris sumatrae jantan dewasa yang sedang beraktivitas normal di wilayah jelajah alaminya.

“Harimau yang terekam dalam video itu berada di akses jalan PT Bumi Siak Pusako (BSP), area terbatas yang masuk dalam kawasan konservasi Taman Nasional Zamrud dan bukan permukiman warga,” ujar Supartono.

Supartono menjelaskan, TN Zamrud merupakan bagian dari home range harimau Sumatera yang masuk dalam kantong habitat Semenanjung Kampar.

Keberadaan satwa kunci tersebut justru menjadi indikator bahwa ekosistem hutan di wilayah Siak masih berfungsi dengan baik.

“Pergerakan harimau di kawasan itu merupakan hal yang alamiah. Ini menandakan rantai ekologi masih berjalan dan kawasan konservasi relatif terjaga,” jelasnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (14/1/2026) pagi, ketika dua karyawan PT BSP, Khaidir dan Dedi, berpapasan dengan harimau di ruas jalan depan Water Injection Plant (WIP). Lokasi tersebut berjarak sekitar 1,3 kilometer dari Pos BBKSDA di Desa Dayun.

Momen langka itu direkam menggunakan ponsel dan kemudian menyebar luas di media sosial. Menindaklanjuti hal tersebut, tim BBKSDA Riau langsung melakukan pengecekan lapangan.

“Hasil verifikasi menemukan jejak tapak kaki harimau sepanjang kurang lebih 12 sentimeter di dua titik, dengan estimasi jalur pergerakan sekitar 1,8 kilometer di dalam kawasan aktif TN Zamrud,” ungkapnya.

Di tengah antusiasme publik, BBKSDA Riau mengingatkan pentingnya etika konservasi. Penyebaran video satwa liar secara masif dinilai berpotensi memicu kepanikan masyarakat dan mengancam keselamatan satwa dilindungi tersebut.

“Kami mengimbau agar dokumentasi tidak disebarluaskan. Penyebaran video dapat memicu keresahan dan berisiko bagi keselamatan harimau Sumatera yang populasinya semakin terbatas,” pungkasnya.

BBKSDA juga mengajak perusahaan dan masyarakat sekitar kawasan konservasi untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti prosedur keselamatan, serta melaporkan setiap temuan satwa liar kepada pihak berwenang. (Dairul)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.