DERAKPOST.COM – Melihat kondisi saat ini, mantan Ketua DPRD Riau Suparman menyebut hal sikap politiknya kedepan adalah, figur bermanfaat kepentinganya daerah. Oleh karena itu, pemimpin Riau hendaknya kedepan bisa lebih ditujukan pada kualitas individu, bukan kelompok tempat bernaung.
Hal itu, disampaikan kepada wartawan, Kamis (15/9/2022). “Kalau disaat ini, di dunia politik tentunya saya ini menjadi penonton. Saya harus fokus mengatur dimana keluarga saya, sanak saudara saya, karena selama 6 tahun ini kurang perhatian. Saya dikurung bukanya atas ada kesalahan dilakukan,” katanya.
Terkait pengalaman politik, ungkap dia, ingin berbagi sumbang saran kepada para aktor politik yang baru. Kedepan sikap politiknya lebih berorientasi pada figur yang bermanfaat bagi kepentingan daerah. Karena ini sangat penting dalam halnya bisa membangun pemerintahan untuk masyarakat.
“Bukan asal figur asal kelompok. Kita jangan buta terhadap akan kepentingan daerah yang lebih luas. Oleh sebab itu pemimpin hari ini, saya lebih fokus pada kualitas individu bukan kelompok yang dinaungi atau bernaung. Ini, yang harus dipahami menjadi seorang pemimpin,” ujar mantan Bupati Rohul.
Katanya, sebagai mantan dari Pimpinan DPRD Riau, maka kembali menegaskan bahwa, pemimpin Riau itu butuh orang yang serius. Tentunya betul-betul ingin membangun Riau yang dengan secara sungguh-sungguh, terukur, terencana, dengan baik. Sebab sambungya, sosok seorang pemimpin itu bukan berdasar dimana terpilih, dan dari daerah mana dia terpilih.
“Jadilah, pemimpin Riau ini secara utuh. Riau itu punya bentuk masalah. Dimana saja, hadirlah pemimpin disitu. Kalau hal itu dilakukan dengan memahami daerah terkait. Maka itu saya rasa pasti semua mendukung. Tapi, kalau misalnya saya berasal dari Rohul, maka saya hanya berpikir tentang Rohul. Berarti saya tak cocok jadi pemimpin Riau. Jadi bupati ajalah,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Politisi Golkar ini, memimpin Provinsi Riau jangan karena lebih memprioritaskan kepentingannya golongan atau kelompok daerah. Tetapi katanya, hendaknya mengutamakan hal membangun daerah untuk masyarakat yang dipimpin. Karena jika itu dilakukan, tentu tercapai tujuannya mensejahtera masyarakat.
“Nah, hari ini yang lebih peduli terhadap kepentingan daerah itu sedikit. Begitu dapat kekuasaan, maka iya lupa bahwa daerah itu lebih memerlukan kebijakan daripada kelompoknya. Diharapkan ini, kedepan untuk kepimpinan di Riau tidak terulang. Sehingganya, ini tentu tercapai tujuan mensejahtera masyarakat,” sebut Alumni Fisipol Unri ini.
Ia pun menegaskan, bahwa untuk saat ini dirinya tak berminat terjun ke dunia politik. Alasannya semua sudah dirasa. Sebab sewaktu menjabat atau bertugas di DPRD Riau selama tiga priode. Tetapi selama bekerja dengan baik-baik, malah ditangkap dengan dituduh jadi koruptor. Padahal semua tahukan, bahwa dirinya tidak ada makan uang korupsi
Ia pun mengingatkan kepada adek-adek juga seniornya yang hari ini memegang kekuasaan di Provinsi Riau, agar kiranya berhati-hati. Bahwasa sikap dan prilaku bisa menjadi kekecewaan, kegagalan di keluarga kita. “Saya menyadar berpolitik itu kadangkala tak menguntungkan bagi individu, tak menguntungkan keluarga,” ungkap mantan Ketua GAMARI. **Rul