DERAKPOST.COM – Perkembangan teknologi digital perlahan mulai mengubah cara pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kepulauan Meranti menjalankan usahanya. Jika sebelumnya pemasaran hanya mengandalkan pelanggan sekitar atau penjualan secara langsung, kini marketplace menjadi peluang baru untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Meski demikian, perubahan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh seluruh pelaku UMKM. Tidak sedikit yang masih bertahan dengan pola penjualan konvensional, bahkan ada yang belum memahami manfaat memasarkan produk secara digital.
Kondisi itu menjadi perhatian Rumah BUMN Kepulauan Meranti. Melalui berbagai program pendampingan, lembaga tersebut terus mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan cara berbisnis di era digital.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar pelatihan pembuatan akun marketplace yang diikuti sekitar 20 peserta. Mereka berasal dari mitra binaan Rumah BUMN dan kalangan pelajar SMK atau generasi muda yang mulai tertarik mengembangkan usaha.
Fasilitator Rumah BUMN Kepulauan Meranti, Putri Maysora mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan agar semakin banyak pelaku UMKM mampu memasarkan produknya secara online sehingga peluang penjualan menjadi lebih besar.
“Kita ingin UMKM di Kepulauan Meranti melek digital. Marketplace sekarang bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan agar produk bisa dikenal masyarakat lebih luas,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Dalam pelatihan itu, peserta diajarkan mulai dari membuat akun marketplace, mengunggah produk, menyusun tampilan etalase, hingga berbagai strategi agar produk lebih mudah ditemukan calon pembeli.
Menurut Putri, saat ini pelaku UMKM di Kepulauan Meranti yang memiliki akun marketplace masih tergolong sedikit. Dari ratusan mitra binaan Rumah BUMN, baru sekitar 25 pelaku usaha yang memiliki akun, sementara yang aktif berjualan jumlahnya lebih sedikit lagi.
Karena itu, pelatihan tidak hanya mengajarkan kemampuan teknis, tetapi juga mengubah pola pikir pelaku usaha agar berani memanfaatkan teknologi sebagai sarana mengembangkan bisnis. “Harapan kami, mereka tidak hanya membuat akun, tetapi benar-benar menggunakannya untuk meningkatkan penjualan,” katanya.
Bukan Sekadar Mengejar Bantuan
Putri mengakui tantangan terbesar bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pola pikir sebagian pelaku UMKM lokal.
Menurutnya, masih ada pelaku usaha yang ingin bergabung ke Rumah BUMN hanya karena berharap memperoleh bantuan peralatan atau program pemerintah. Padahal, tujuan utama pembinaan adalah membangun usaha agar mampu berkembang secara mandiri.
“Kalau datang hanya untuk mencari bantuan, biasanya setelah mendapat bantuan mereka menghilang. Bahkan ada yang menjual mesin bantuan. Yang kami cari adalah pelaku UMKM yang memang ingin belajar, berkembang dan naik kelas,” bebernya.
Karena itu, setiap pelaku UMKM yang bergabung didorong untuk mengurus legalitas usaha sejak awal, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), desain kemasan, label produk hingga sertifikasi lainnya.
Saat ini Rumah BUMN Kepulauan Meranti telah membina sekitar 270 pelaku UMKM dengan lebih dari 100 jenis produk. Salah satu syarat utama bergabung adalah memiliki NIB sehingga proses pengembangan usaha dapat dilakukan lebih terarah.
Menurut Putri, legalitas menjadi modal penting agar produk dapat masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk mengikuti berbagai pameran dan bekerja sama dengan pelaku usaha lain.
Legalitas Masih Menjadi Kendala
Meski berbagai pendampingan telah dilakukan, masih ada tantangan besar yang dihadapi pelaku UMKM, terutama dalam memperoleh izin BPOM.
Banyak pelaku usaha belum mampu memenuhi persyaratan karena rumah produksi masih menyatu dengan dapur rumah, bangunan belum permanen, hingga peralatan produksi yang belum sesuai standar.
“Kata mereka yang mahal sebenarnya bukan mengurus izinnya, tetapi menyiapkan seluruh persyaratannya. Itu yang masih menjadi kendala bagi sebagian besar UMKM,” jelas Putri.
Hingga kini, baru satu pelaku UMKM di Kepulauan Meranti yang berhasil memperoleh izin BPOM, yakni Misagu Boedjang yang berlokasi di Desa Gogok, Kecamatan Tebingtinggi Barat.
Berawal UMKM, Kini jadi Narasumber
Keberhasilan Misagu Boedjang menjadi bukti bahwa produk lokal Meranti memiliki peluang besar menembus pasar digital jika dikelola secara serius.
Pemilik usaha, Igo Julianto, kini justru dipercaya menjadi narasumber dalam pelatihan pembuatan akun marketplace yang diselenggarakan Rumah BUMN.
Ia berbagi pengalaman mengenai proses membangun usaha, memasarkan produk secara digital, hingga strategi agar produk mampu bersaing di marketplace.
Kisah sukses tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi pelaku UMKM lainnya, bahwa pemasaran digital bukan sesuatu yang sulit jika dijalankan secara konsisten.
Produk Misagu Boedjang bahkan pernah dibawa mengikuti pameran di Amsterdam, Belanda, pada 2022. Sementara pada 2025, berbagai produk UMKM binaan lainnya juga ikut dipromosikan dalam bazar di Malaysia serta berbagai pameran di Pekanbaru.
“Kalau produknya sudah memiliki legalitas seperti sertifikat halal dan P-IRT, pasti kami usahakan ikut dipromosikan dalam berbagai pameran,” kata Putri.
Bagi Putri, pelatihan marketplace hanyalah awal dari proses panjang membangun UMKM yang lebih mandiri. Yang paling penting bukan sekadar memiliki akun marketplace, tetapi keberanian untuk terus belajar, konsisten memasarkan produk, memperbaiki kualitas usaha dan mengubah pola pikir agar mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi digital.
Di era saat ini, produk lokal tidak lagi cukup hanya dikenal di lingkungan sekitar. Dengan legalitas yang lengkap, pemasaran digital yang konsisten dan kemauan untuk terus berkembang, produk-produk UMKM Kepulauan Meranti memiliki peluang yang sama untuk menembus pasar nasional bahkan internasional.
Saatnya Berani Masuk Pasar Digital
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kepulauan Meranti, Eko Priyono menilai, digitalisasi memang menjadi langkah yang tidak bisa dihindari oleh pelaku UMKM saat ini.
Menurutnya, perilaku konsumen telah berubah. Masyarakat kini lebih banyak mencari dan membeli produk melalui platform digital sehingga pelaku usaha juga harus menyesuaikan diri.
“Target pasar kita tidak boleh lagi terbatas oleh wilayah. UMKM Kepulauan Meranti harus mampu menembus pasar nasional bahkan mancanegara melalui marketplace, media sosial dan sistem pembayaran digital,” ujarnya.
Kedepan, pihaknya akan memberikan pembinaan mulai dari pelatihan digital marketing, pembuatan konten kreatif, penguatan kemasan produk, hingga pendampingan legalitas dan sertifikasi halal. (Advetorial/Atansyam)