Abrasi Jadi Ancaman, Kades Permai Sebut Diprediksi Lima Tahun Kedepan Itu Tinggal Kenangan Sejarah

0 83

DERAKPOST.COM – Warga di Desa Permai, di Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Meranti mengaku resah dengan hal abrasi. Diketahui desa yang terletak di pengujung kecamatan, berhadapan langsung dengan Selat Malaka, laut memisahkan Indonesia dengan Malaysia.

Namun belakangan, di Kepulauan Meranti ini terancam abrasi yang menjadi keluhan pemukiman. Dimana dampaknya itu, tidak hanya menggerus rumah-rumah warga di daerah tersebut, tapi juga fasilitas umum yang ada di desa tersebut. Dimana, setiap hari abrasi pantai itu semakin mengancam kehidupan masyarakat.

Azman selaku Kepala Desa (Kades), saat dikonfirmasi menyebut, bahwasa desa ini terletak di pengujung kecamatan, dengan kondisinya itu berhadapan langsung Selat Malaka, laut yang memisahkan Indonesia dengan Malaysia. Tapi saat ini merasakan keresahan adanya ancaman abrasi pantai semakin mengancam.

“Setiap hari, abrasi pantai semakin menjadi ancaman kehidupan masyarakat setempat, yang kini merasa sangat membutuhkan hal perhatian dari pemerintah pusat. Kalau, hal abrasi itu biasanya bulan September. Maka Itu cemas akibat pasang dalam dan ombak besar yang menggerus bibir pantai,” terang Kades menjelaskanya.

Kades pun mengungkapkan, bahwa setiap September itu, biasanya masyarakat mulai cemas dan resah dengan abrasi. Diketahui itu terjadi pengikisanya pantai diperkirakan 15 hingga 20 meter per tahunnya. Didalam hal ini, Azman menjelaskan, bahwasa luas wilayah Desa Permai yang semula sekitar 45 kilometer persegi.

“Diketahui, dulunya wilayah Desa Permai yang semula sekitar 45 kilometer persegi. Tapi ini hanya tersisa 20 kilometer persegi. Selain itu, jalan poros desa yang berjarak 1 kilometer yaitu dari bibir pantai kini hanya tinggal 60 meter. Jalan poros tergerus itu, adalah bekas perkebunan kelapa dan juga permukiman,” ujarnya.

Lebih lanjut, Azman menekankan, di sekitar jalan poros ini terdapat tiga sekolah, kantor desa, rumah ibadah, dan bahkan posyandu yang merupa tempat pelayanan kesehatan masyarakat. Dan sarana itu, bisa terancam hanyut akibat abrasi, yang jika tidak segera ditangani. Makanya, batu pemecah ombak itu solusi paling tepat.

“Tidak menutup kemungkinan sarana yang ada ini akan tergerus abrasi. Karena cuma tinggal sekitar 60 meter lagi yang dari bibir pantai. Kalau tidak dibangun batu pemecah ombak, sebagaimana diharapkan. Maka ini diprediksi dalam lima tahun ke depanya itu, tentunya kampung ini bakal tinggal sejarah nantinya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Azman berharap, pihaknya pemerintah pusat untuk agar dapat segera membangun batu pemecah ombak, sesuai harapan, yaitu yang sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer. Memang, sebelumnya sudah dibangun pihak PUPR Provinsi Riau sekitar 500 meter. Tapi, hal itu belum cukup untuk menopang ombak ini. (Sang)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.