Reses di Desa Baru, Waka DPRD Kampar Tony Hidayat: Pilih Migor 2 Liter, Atau Infrastruktur

0 255

 

DERAKPOST.COM – Wakil Ketua (Waka) DPRD Kampar Tony Hidayat ini kembali mengadakan reses Masa Sidang I 2023, di RW 1 Dusun 3 Pasir Putih Desa Baru, Kecamatan Siak Hulu, di hari Sabtu sore (2/12/2023) sore.

Reses ditaja, tanpa dihadiri Kepala Desa Baru M Haris. Tapi, hadir dari unsur BPD Syamsul. Selain itu, tampak juga Kepala Dusun (Kadus) 3 Pasir Putih Zulfidi, RT/RW, tokoh masyarakat, Babinkamtibmas dan Babinsa setempat. Reses pada kali ini juga diawasi Panwas Kecamatan.

Didalam kesempatan itu, politisi Partai Demokrat ini memberikan pendidikan politik kepada warga, khususnya kaum ibu. Intinya, jangan itu tergoda dengan iming iming politik transaksional atau berupa politik uang (money politics).

‘’Maaf, ibu ibu, jangan hanya diberikan satu atau dua liter minak goreng, jilbab, atau pakaian majelis Ta’lim, ibu ibu lalu memberi amanah kepada dia. Padahal, nilainya kecil dan tidak sepadan jikalau dibanding pembangunan infrastruktur akan dibangun di daerah ini,’’ tuturnya.

Pria akrab disapa TH inipun, menyebut, sebenarnya sejak tahun 2014 lalu, telah ada keberadaan perwakilan dirinya juga berada di Desa Baru, khusunya di Dusun 3, yakni ada sama Forum Komunikasi (Forkom) Teman Hati (TeHa) dan disaat ini ada rumah aspirasi di sini. Yang jelas permasalah dibahas untuk bersama.

‘”Setelah dihitung-hitung, dimana nilai pembangunan untuk aspal jalan, serta hotmix, dan pembangunan parit, gorong gorong totalnya ada mencapai miliaran rupiah. Jadi, ibu ibu mau memberikan amanah untuk orang yang memberikan 1 atau 2 liter per orang. Atau halnya ini, infrastruktur bisa untuk anak anak cucu kita,’’ kata Tony lagi.

Namun, kata Waka DPRD Kampar yang merupakan warga asli Pandau Permai yakin RW beserta perangkat RT nya itu berkomitmen untuk halnya membangun daerahnya. Salah satu bukti pertemuan reses hari ini, berhasil dikoordinir RT-RT setempat.

Kesempatan itu, Tony Hidayat di dalam paparannya ini memberikan pendidikan politik kepada warga, khususnya kaum ibu. Intinya, pria yang akrab disapa TH ini mengatakan jangan tergoda dengan iming iming politik transaksional atau berupa politik uang.

“Ini saya hanya mengimbau. Maaf, yah ibu-ibu. Dikarena ini biasanya yang jadi sasaran pencari suara untuk bisa duduk di DPRD adalah ibu-ibu. Yakni, biasanya diberikan dua liter minak goreng, jilbab, dan lainnya. Maka, pilihan suara dipilih demikian,” sebutnya.

Dan naifnya, jika sosok politisi demikian terpilih duduk di lembaga DPRD ini, jadi wajar saja tidak mengunjungi. Itu yang biasanya terjadi, karena dari awalnya ini sudah transaksional (pembelian suara) yang sesaat. Sehingganya para pemilik suara itu akan menderita selama lima tahunan. **Rul

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.