Saat Gejolak Pasar, Petani Sawit Apresiasi PTPN IV Ini Lindungi Harga Tandan Buah Segar Mitra Plasma

0 57

DERAKPOST.COM – PTPN IV PalmCo dapat apresiasi petani sawit yang merupa bagian Mitra Plasma. Apresiasi diberikan ini, yang dikarenakan perusahaan BUMN komitmen menjaga stabilitasnya Harga Tandan Buah Segar (TBS) pada saat fluktuasi pasar yang sempat menekan harga sawit petani waktu lalu.

Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Desa Kumain, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Hadiyanto, mengatakan petani plasma merasakan langsung manfaat pola kemitraan dengan PTPN IV, terutama ketika harga sawit di tingkat petani mengalami penurunan kala itu.

Menurut dia, saat banyak petani swadaya terdampak anjloknya harga TBS, PTPN IV tetap menyerap hasil panen petani mitra dengan harga yang lebih stabil dan jauh di atas harga pasar.

“Kami dan segenap petani mitra PTPN IV Regional III Sei Tapung sangat bersyukur menjadi bagian dari PTPN IV. Saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih bisa tersenyum karena harga tetap stabil,” kata Hadiyanto di sela-sela diskusi panel menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pertanian, BPDP, serta Aspekpir pada peluncuran buku “Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi” di Pekanbaru.

Ia menjelaskan, selisih harga pembelian TBS yang diterima petani mitra dibandingkan pabrik kelapa sawit (PKS) lain di sekitar wilayahnya cukup signifikan, yakni berkisar antara Rp600 hingga Rp1.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut, lanjut dia, memberikan kepastian pendapatan bagi petani, terutama ketika produktivitas kebun sedang mengalami penurunan akibat faktor usia tanaman maupun kondisi cuaca.

“Kebijakan harga yang diterapkan PTPN IV sangat membantu petani anggota kami. Di saat tren produksi sedang menurun dan harga di PKS lain anjlok, PTPN tetap hadir dengan harga yang stabil. Pendapatan petani menjadi lebih aman,” ujarnya.

Hadiyanto mengatakan Koperasi Produsen Makarti Jaya saat ini mengelola kebun plasma seluas 731 hektare dan telah menjadi mitra PTPN IV selama lebih dari tiga dekade. Petani anggota koperasi bahkan telah memasuki siklus kedua budidaya sawit setelah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) pada 2019.

Menurut dia, pengalaman panjang bermitra dengan PTPN IV membuktikan bahwa kemitraan tidak hanya memberikan jaminan pasar bagi hasil panen petani, tetapi juga meningkatkan produktivitas kebun melalui pendampingan teknis dan penerapan praktik budidaya terbaik.

Ia berharap kemitraan tersebut dapat terus berlanjut, terutama dalam menjaga stabilitas harga TBS dan pendampingan kepada petani melalui penerapan best management practices sehingga produktivitas kebun dan kesejahteraan petani terus meningkat.

“Kami berharap PTPN tetap membeli TBS kami dengan harga yang telah disepakati setiap pekannya bersama pemerintah daerah dan terus mendampingi petani. Kemitraan ini sudah terbukti saling menguntungkan dan memberikan manfaat bagi petani,” katanya.

Ia juga mengajak petani swadaya untuk mempertimbangkan pola kemitraan sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.

Menurut dia, di tengah perkembangan industri sawit yang semakin kompetitif, kemitraan dengan perusahaan yang memiliki pengalaman panjang dan tata kelola yang baik menjadi salah satu kunci agar petani mampu bertahan menghadapi dinamika pasar.

Stabilitas harga yang dirasakan petani mitra tersebut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit nasional untuk mendukung program ketahanan pangan dan energi, termasuk implementasi mandatori biodiesel B50.

Dengan produktivitas yang terjaga dan kepastian harga di tingkat petani, kemitraan antara perusahaan dan petani diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan pasokan bahan baku sawit nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.

Sebelumnya sempat terjadi penurunan harga sawit petani dipicu kepanikan sebagian pelaku industri menyusul transisi kebijakan ekspor satu pintu dan praktik Pabrik Kelapa Sawit yang membeli di bawah harga acuan.

Dampaknya paling dirasakan petani swadaya yang tidak memiliki kemitraan dengan perusahaan maupun pabrik pengolahan. Di sejumlah daerah, harga TBS sempat merosot jauh di bawah harga yang ditetapkan pemerintah.

Di tengah sorotan terhadap ratusan PKS swasta tersebut, sub holding PTPN III (Persero) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo memastikan aktivitas pembelian TBS dari masyarakat tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra. Volume tersebut meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Jatmiko, keberlanjutan serapan TBS menjadi faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit.

“Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen,” ujarnya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha menambahkan, perusahaan terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai wilayah operasional untuk memastikan pelaksanaan ketentuan harga sesuai regulasi pemerintah.

Menurut dia, keberadaan perusahaan milik negara di sektor sawit tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas tata niaga ketika pasar mengalami gejolak.

“PTPN IV PalmCo terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan untuk memastikan implementasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak,” pungkasnya. (Rilis)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.