DERAKPOST.COM – Disaat ini, ada formula baru guna meoptimalkan penanganan dan penataan sistem perparkiran. Dalam hal ini,
Pemerintah Kota (Pemko) Solo, di Provinsi Jawa Tengah, terus berupaya menanggapi berbagai masalah seputar perparkiran Kota Bengawan.
Pernyataan tersebut diungkapkannya Wali Kota (Wako) Solo Respati Ardi, didalam hal menanggapi berbagai permasalah seputar perparkiran di Kota Bengawan. “Di Pemko, menyiapkan formula baru guna optimalkan penanganan dan penataan perparkiran. Hal ini dilakukan didalam menanggapi berbagai permasalahan seputar perparkiran di Kota Bengawan,” katanya.
Dikutip dari laman Kompas. Dikatakan dia, dalam hal ini dirinya sudah punya formula baru untuk parkir yaitu ToT pengelola. Titik parkir kerja samakan dengan pengelola. Ini sedang dirumuskan dengan pengelola. Dan
kebijakan anyar, nantinya akan dituangkan dalam bentuk peraturan Perwali atau bisa bentuk regulasi baru khusus itu mengenai pengelolaan parkir.
Saat ini, draf aturan sedang digodok secara intensif dengan melibatkan hal pihak-pihak terkait. “Kita tunggu saja ada Perwali baru, terkait pengelolaan parkir. Diharap tenang aja,” ujar Respati. Karena sambungnya, hal ini semua bertujuan untuk pembenahan.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo sempat memberikan klarifikasi atas unggahan media sosial yang menyebutkan bahwa jumlah juru parkir (jukir) di Solo mencapai tiga hingga empat kali lipat lebih banyak dibandingkan ketersediaan lahan parkir.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perparkiran Dishub Solo, Haryono Nugroho, memaparkan bahwa saat ini tercatat ada sekitar 1.500 orang jukir yang tersebar di 340 titik parkir resmi di seluruh wilayah Kota Solo.
Kendati angka kuantitas jukir mencapai hampir empat kali lipat dari jumlah titik lokasi, Haryono dengan tegas membantah anggapan bahwa Kota Solo mengalami surplus atau kelebihan tenaga juru parkir.
Ia menjelaskan, satu titik lokasi parkir di lapangan kerap kali mencakup ruas jalan cukup panjang, sehingga membutuhkan pengerahan belasan hingga puluhan petugas sekaligus untuk pengaturan lalu lintas dan kendaraan.
“Titik parkir itu kalau di kami kan 340-an. Jukirnya kita kan 1.500-an. Nah, mereka membuat statement itu bahwa ini berarti tiga kali sampai empat kali dari titik parkir jukirnya, apa jumlah jukirnya. Berarti kan merasa kelebihan gitu loh,” ucap Haryono saat dihubungi Kompas, pada hari Sabtu (24/10/2026). (Dairul)