DERAKPOST.COM – Limbah sabut kelapa yang selama ini, belum dimanfaatkan itu secara optimal. Kini disulap itu jadi solusi penyelamatan lingkungan melalui proyek sosial bernama “CocoGuard Ideation: Inovasi Limbah Sabut Kelapa Mitigasi Abrasi.”
Inovasi ini lahir dari kegelisahan persoalan abrasi dan juga longsor tebing sungai yang terus terjadi. Bahkan makin nyata, di mana dibulan Juni 2026 lalu Pemerintah Provinsi Riau ini, melaporkan longsor di Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, mengakibatkan 14 rumah terdampak, serta empat rumah terseret ke sungai. Fakta ini menunjukkan abrasi bukan hanya ancaman, tapi dibutuh mitigasi segera.
Berangkat dari kondisi tersebut, Putri Louisa, Fariusman serta Nurul Adi Aidi dari mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Sains Universitas Lancang Kuning ini, bersama masyarakat itupun ada menggagas proyek percontohan di Desa Sanglar dan Desa Pulau Kecil, Kecamatan Reteh. Proyek ini mereka didampingi dosen pembimbing Assoce Profesor Dr Dodi Sukma.
Proyek ini akhirnya lolos pada program Pertamina Foundation PFmuda 2026 yang diumumkan pada awal September 2026 bersama dengan para mahasiswa dari berbagai kampus top di Indonesia.
Menurut Assoce Profesor Dr Dodi Sukma, lokasi ini dipilih karena memiliki dua potensi sekaligus: melimpahnya limbah sabut kelapa dan tingginya risiko pengikisan tanah di tepian sungai yang dataran rendah dan dipengaruhi aliran sungai.
Cara kerja CocoGuard cukup cerdas dan ramah lingkungan. Sabut kelapa yang memiliki karakter kuat dan alami akan dikumpulkan dan diolah menjadi media berbasis serat alami bernama CocoGuard. Media ini kemudian dipasang di tebing sungai rawan abrasi sebagai pelindung awal permukaan tanah dari pengikisan. Penelitian Asha’ari et al. (2021) pun membuktikan, material berbasis kelapa dapat membantu mengurangi kehilangan tanah dibanding permukaan tanpa perlindungan.
Sementara itu ketua tim Putri Louisa mengatakan, yang membuat proyek ini istimewa, CocoGuard tidak hanya berorientasi teknologi, tapi juga pemberdayaan. Masyarakat dan kelompok pengolah sabut kelapa akan dilibatkan penuh mulai dari pengumpulan limbah, pengolahan sabut, pembuatan media, pemasangan di tebing sungai, penanaman vegetasi penguat tanah, hingga pemantauan. Pendekatan ini menggabungkan sabut kelapa sebagai pelindung jangka pendek dan vegetasi sebagai penguat jangka panjang.
Manfaatnya pun berlapis. Secara lingkungan, mampu mengurangi abrasi secara alami. Secara sosial, meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Secara ekonomi, limbah yang tak bernilai kini memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi yang membuka sumber pendapatan tambahan bagi kelompok pengolah sabut kelapa, sebut Putri.
Melalui konsep “dari limbah menjadi pelindung lingkungan”, hamparan kelapa Inhil tidak hanya dipandang sebagai sumber komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai sumber material lokal untuk menjawab permasalahan lingkungan. Jika berhasil, model CocoGuard di Desa Pulau Kecil ini akan menjadi percontohan yang dapat dievaluasi dan direplikasi di titik rawan abrasi lainnya di Desa Sanglar maupun seluruh wilayah tepian sungai di Kabupaten Indragiri Hilir. (Dairul)