DERAKPOST.COM – Apel Siaga Karhutla ini ditaja oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Kegiatan itu, berlangsung di PT PHR Rumbai, di Pekanbaru, Sabtu (25/4/2026).
Apel siaga merupakan kelanjutan kegiatan serupa pada Maret lalu dan menjadi bagian dari rangkaian persiapanya awal dalam hal penanggulangan karhutla, khususnya pada enam provinsi prioritas di Indonesia.
Diketahui, kegiatan ini di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan menggelar Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi peningkatan risiko kebakaran. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Hanif Faisol Nurofiq selaku Menteri Lingkungan Hidup.
Apel siaga pengendalian karhutla ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, asosiasi industri kehutanan, serta sektor swasta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara terpadu dan berkelanjutan.
Apel siaga yang turut diikuti oleh beberapa perusahaan di Riau ini adalah sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung upaya pencegahan kebakaran secara berkelanjutan. Dalam kegiatan tersebut, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) hadir sebagai bagian dari peserta berpartisipasi bersama para pemangku kepentingan lainnya.
Fire Lowland Coordinator RAPP, Ramadhan, didamping Stakeholder Relations Manager RAPP, Wijatmoko Rah Trisno, menyampaikan bahwa perusahaan senantiasa berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan melalui penguatan kesiapsiagaan serta koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait.
“Sebagai bagian dari komitmen tersebut, kami terus memperkuat kesiapsiagaan dan menjalin koordinasi dengan seluruh pihak terkait guna mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla secara optimal,” ujar Ramadhan.
Melalui apel siaga ini, seluruh pihak diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau, sehingga potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan secara optimal serta respons penanganan di lapangan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dalam arahannya juga menyampaikan penanganan karhutla harus dilakukan secara komprehensif dengan mengedepankan langkah pencegahan, deteksi dini, serta respons cepat di lapangan. Sinergi yang solid antar pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kebakaran.
“Prediksi BMKG menunjukkan musim kemarau akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Sebagian wilayah Indonesia, termasuk Riau yang telah memasuki masa kemarau sejak April. Puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus, serta akan berakhir pada Oktober. Artinya, Indonesia akan menghadapi musim kemarau selama kurang lebih tujuh bulan,” ungkapnya.
Situasi ini berpotensi semakin diperparah oleh fenomena iklim El Nino yang diprediksi terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Oleh karena itu, penguatan kesiapsiagaan menjadi krusial, mencakup kesiapan personel, peralatan, serta optimalisasi sistem pemantauan guna memastikan efektivitas upaya penanganan karhutla.
“Saya juga berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tataran seremonial saja. Kita sangat perlu melakukan langkah-langkah rencana operasional taktis. Kesiapan lebih awal sangat kita harapkan untuk lebih detail memetakan lokasi-lokasi yang memiliki potensi karhutla,” tambahnya. (Irsyad)