Waduh …. HUT Provinsi Riau ke-69 Ditahun 2026 dengan Kondisi Langit Diwarnai Jerebu

DERAKPOST.COM – Ulang tahunya Provinsi Riau yang ke-69, hari Ahad (9/8/2026), saat ini diperingati. Namun pada peringatan hari ini, di bawah kondisi langit tak benar-benar biru. Upacara bendera atau apel peringatan HUT tetap terlaksana dengan lancar.

Hal tersebut, yang terpantau saat upacara bendera merayakan HUT Provinsi Riau saat pag hari, di Kantor Gubernur berada Jalan Sudirman, Kota Pekanbaru. Dimana kondisi langit yang tidak benar-benar biru. Disebab, ada jerebu menggantung, sehingga kondisi menutupi cahaya matahari, dan sementara pada aroma asap dari kebakaran hutan dan lahan masih terasa di udara.

Di halaman Kantor Gubernur Riau, upacara Hari Jadi Provinsi Riau inipun berlangsung khidmat. Orang-orang berdiri tegak dalam balutan busana adat Melayu, seolah ingin mengatakan bahwa sebuah daerah tetap bisa menjaga martabatnya, bahkan ketika langit sedang kelabu yang diwarnai kabut asap tersebut.

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto memimpin upacara mengusung tema “Bersatu dalam Keberagaman, Maju dalam Pembangunan.” Diantara para tamu undangan dengan hadir mantanya gubernur Saleh Djasit, Syamsuar, Wan Abubakar, Mambang Mit, Annas Maamun, Arsyadjuliandi Rachman, Wan Thamrin Hasyim, hingga Rahman Hadi.

Dalam pidatonya, SF Hariyanto berbicara tentang layanan kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, dan kesejahteraan petani, nelayan, serta pelaku UMKM. Bahkan ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas infrastruktur jalan yang belum memadai dan pekerjaan rumah pemerintah yang belum selesai.

Kalimat itu membuat peringatan hari jadi terasa lebih manusiawi, dikarena di balik panggung resmi, ada pengakuan bahwa harapan warga belum seluruhan terjawab. Sebab sementara upacara berlangsung di Pekanbaru, ratusan kilometer dari sana, orang-orang lain sedang merayakan Riau dengan cara yang berbeda.

Di Sungai Guntung Hilir, Indragiri Hulu, personel Manggala Agni berjibaku menghadapi api yang telah membakar puluhan hektare lahan. Asap pekat, angin kencang, dan akses yang sulit menjadi lawan setiap hari. Mereka membuka jalan, membentangkan selang, membuat sekat bakar, dan menunggu helikopter water bombing datang dari langit sama-sama kelabu.

Di Kerumutan, Pelalawan, perjuangan itu bahkan dimulai sebelum air disemprotkan. Petugas harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dengan sepeda motor, lalu berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mencapai kepala api. Serta di Pematang Pudu, Bengkalis, perjalanan menuju titik kebakaran harus ditempuh dengan perahu menyusuri sungai selama lebih dari satu jam.

Mereka yang berada di lokasi itu juga tidak mengenakan songket atau tanjak seperti hal sejumlahan orang memperingati HUT Provinsi Riau ke-69. Yang mereka kenakan adalah baju lapangan dalam kondisi basah oleh keringat dan bau asap. Hal itu, dalam menjaga daerah ini dengan cara tersendiri. Mungkin di situlah makna ulang tahun Riau yang sesungguhnya. (Dairul)

HUTjerebukondisilangitRiau
Comments (0)
Add Comment