DERAKPOST.COM – Belakangan ini, santer pemberitaanya mengenai Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf. Khususnya itu terhadap pengangkatan dua anaknya ini menjadi tenaga ahli, kementerian tersebut. Saat ini resmi mengundurkan diri.
Sebagaimana hal diketahui, ada dua orang anak Menteri Haji dan Umrah, yakni adalah Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, resmi mengundurkan diri dari jabatannya itu sebagai tenaga ahli di lingkung Kementerian Haji dan Umrah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, hal yang mengonfirmasi surat pengunduran diri kedua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan tersebut telah diterima itu, secara resmi pihaknya jajaran pimpinan pada kementerian pada hari ini.
“Hari ini kami, saya dan Pak Menteri sudah terima pengunduran diri dua orang tenaga ahli yang Anda sebut-sebut. Jadi secara resmi hari ini dua orang yang disebut di berita… beliau berdua memutuskan untuk mengundurkan diri,” ujar Dahnil ditemui di kantornya, Jakarta Pusat.
Sebelumnya, diketahui hal pengangkatan Barbarossa dan Gibran sebagai tenaga ahli di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah memantik gelombang kritik dari publik. Tak lain karena keduanya adalah anak kandung dari Menteri Haji Gus Irfan.
Dikutip dari laman CNNIndonesia. Dimana warganet juga mengaitkan pengangkatan mereka sebagai cermin praktik nepotisme. Terlebih lagi adanya pernyataan Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf ini memberikan hal klarifikasi terkait polemik pengangkatan keluarganya.
Terkait pengunduran diri dua anak Menteri Haji dan Umroh tersebut, Dahnil jelaskan, keputusan mundur tersebut diambil demi halnya menjaga integritas lembaga serta meredam kegaduhanya publik. Pihaknya berkomitmen memastikan kementerian yang baru dibentuk ini bersih dari segala praktik nepotisme maupun tindakan yang bertentangan dengan etika.
“Itu juga untuk menjawab komitmen kami di Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga, memastikan integritas tetap harus terjaga. Dan itu adalah komitmen Pak Menteri dan komitmen saya untuk memastikan Kementerian Haji dan Umrah itu harus bebas dari praktik-praktik yang tidak beretika, praktik-praktik manipulatif, koruptif, perilaku mafia dan sebagainya,” tegas Dahnil.
Dahnil kemudian menerangkan awal mula pengangkatan kedua anak Menhaj. Kata dia, keterlibatan dua putra Menhaj bermula dari keterbatasan sumber daya manusia (SDM) saat Badan Penyelenggara (BP) Haji pertama kali dibentuk pada akhir Oktober 2024.
Kala itu, BP Haji belum memiliki struktur organisasi, kantor, maupun jajaran staf administrasi. “Keramaian kemarin terkait dengan dua tenaga ahli ini sebenarnya memang berangkat dari kebutuhan Kementerian Haji di awal-awal dulu. Ketika Badan Penyelenggara Haji memang tidak ada orang yang mau membantu kami sejak awal secara sukarela,” kata Dahnil.
Sebelumnya diberitakan Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf juga sempat memberikan klarifikasi terkait ada polemik pengangkatan keluarganya. Ia mengatakan peran anak-anaknya dan beserta sejumlah santri membantu proses pembentukannya lembaga Badan Penyelenggara Haji secara cuma-cuma itu, selama tiga hingga empat bulan.
Seiring berkembangnya kelembagaan yang menjadi kementerian, memang beberapa diantaranya yang dinilai berintegritas dan memiliki kompetensi itu diangkat menjadi tenaga ahli. Namun akhirnya ini menyikapi respons publik berkembang pesat dalam beberapa hari terakhir, kedua anak Menteri Haji dan Umroh, dan memilih melepaskan jabatan tersebut. (Dairul)