BBM Langka di Pulau Bengkalis, Warga Tempuh 17 Km untuk Demi Pertalite dan Harga Eceran Mencekik

DERAKPOST.COM – Kelangkaan hal Bahan Bakar Minyak (BBM), di Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis menyulitkan aktivitas masyarakat. Warga dari Desa Pematang Duku harus menempuh perjalanan hingga 17 kilometer untuk mendapatkan Pertalite. Bahkan, sebagian warga terpaksa membeli BBM dengan harga yaitu Rp15.000 hingga Rp17.000 per liter.

Kondisi itu yang dikeluhkan warga dalam beberapa pekan terakhir hingga Oktober 2026, berdampak pada berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, menjalankan hal usaha, melaut, bertani, hingga kegiatanya belajar para pelajar. Jauhnya akses pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), dan antrean panjang, serta terbatasnya pilihan pembelian setelah penjualan yang melalui pengecer tidak lagi tersedia, membuat hal masyarakat kesulitan.

Bahkan, halnya sejumlah pelajar dilaporkan terpaksa mendorong sepeda motor karena kehabisan BBM. Hal itu sebagaimana pada penelusuran awak media di daerah. Yakni, seperti dialami Kepala Biro salah satu dari warga Desa Pematang Duku, yang harus juga menempuh jarak sekitar 17 kilometer untuk hal mendapatkan Pertalite di SPBU terdekat. Jarak menjadi beban tambahan bagi masyarakat mengandalkan sepeda motor untuk bekerja maupun mengantar anak ke sekolah.

Tak hanya itu, warga ada juga dilaporkan membeli BBM ini hingga 10 liter dari luar daerah dengan harga berkisar Rp15.000 sampai Rp17.000 per liter. Sebagian warga bahkan berupaya mendapatkan pasokanya dari Kabupaten Kepulauan Meranti. “Sebab sulitnya jikalau pengecer tidak dibenarkan untuk menjual minyak,” kata Indra, dengan meneruskan keluhan salah seorang warga Desa Pematang Duku.

Pertamina Belum Beri Penjelasan Substantif

Persoalan kelangkaan BBM ini yang turut menjadi perhatian setelah media meminta penjelasan kepada Sales Brand Manager Pertamina, Moh Riza Rahmat Syah, terkait kondisi distribusi dan langkah penanganan yang disiapkan perusahaan. Namun, Riza mengarahkan media untuk menghubungi bagian humas Pertamina.

“Punten lambat merespon, untuk pertanyaan tersebut monggo bisa ke bagian Humas kami ya Pak,” jawab Riza saat dikonfirmasi. Hingga keterangan tersebut diperoleh, belum ada penjelasan substantif mengenai langkah konkret Pertamina untuk mengatasi kesulitan akses dan memastikan ketersediaan Pertalite bagi warga yang tinggal jauh dari SPBU.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Bengkalis, Zulpan, juga mengakui adanya antrean BBM. Ia menyebut pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk halnya meninjau kondisi. Menurut dia, pemerintah daerah berupaya memastikan ketersediaan BBM di SPBU, khususnya itu untuk di Pulau Bengkalis.

Ketersediaan BBM di SPBU dinilai belum cukup apabila akses untuk menjangkau masih membutuhkan biaya dan waktu yang besar. Warga membutuhkan solusi yang tetap sesuai ketentuan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Hal itu sebagaimana keluhan disampaikan Arol, warga Desa Pematang Duku bekerja sebagai tukang bangunan. Dia mengaku harus menambah uang jajan anaknya yang bersekolah di SMAN 2 Bengkalis, dikarena Pertalite yang biasa dibeli untuk perjalanan pergi dan pulang sekolah tersebut kini sulit ditemukan.

“Biasanya anak saya ini membeli Pertalite setengah liter untuk pergi dan juga pulang sekolah. Tetapi sekarang Pertalite tak ado lagi yang jual. Terpakso lah kami membeli Pertamax dengan harga mahal, yang juga diketahui itu bukan BBM Subsi. Tentu yang sebagai oghang kecik, kami harus dengan rela menambah uang jajan anak,” keluhnya dengan logat Melayu khas Pulau.

Bagi Arol, tambahan pengeluaran itu cukup memberatkan. Penghasilannya ini sebagai tukang bangunan harus digunakanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan di keluarga. Arol juga menggambarkan halnya dampak kelangkaan BBM, yang terhadap keluarga berpenghasilan terbatas. Diketika bahan bakar yang biasa digunakan sulit didapat, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan transportasi.

Dalam hal ini, warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis, maupun Pertamina, dan BPH Migas untuk segera berkoordinasi mencari solusi konkret atas persoalan kelangkaan dan distribusi BBM di Pulau Bengkalis. Salah satu harapannya masyarakat adalah adanya penambahan titik penyaluran resmi BBM di desa-desa, sehingga warga tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk hal mendapatkan bahan bakar. (Hamid)

 

 

Comments (0)
Add Comment