Ancaman Keras Bagi Ulama dan Da’i Suu’ yang Menjadi Stempel Penguasa Zalim

SEGALA puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha Mengangkat derajat hamba-hamba-Nya dengan ilmu, dan Dialah pula Yang Maha Menghinakan orang-orang yang menyalahgunakan ilmu untuk kepentingan hawa nafsu dan dunia.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah ilmu. Dengan ilmu seseorang mengenal Tuhannya, memahami agamanya, membedakan antara yang hak dan yang batil, serta mengetahui jalan keselamatan menuju akhirat.

Karena itulah kedudukan ulama sangat tinggi di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Namun kemuliaan ilmu dapat berubah menjadi petaka apabila ilmu tidak lagi mengantarkan pemiliknya kepada Allah, melainkan justru menjadi alat untuk mencari dunia, mengejar jabatan, mendekati kekuasaan, dan membenarkan kezaliman.

Di sinilah lahir sosok yang oleh para ulama disebut sebagai ‘Ulama Suu’ (عُلَمَاءُ السُّوءِ),
yaitu orang-orang yang memiliki ilmu tetapi kehilangan rasa takut kepada Allah.

Lisannya berbicara tentang agama, namun hatinya dipenuhi ambisi dunia.

Pakaiannya menyerupai para ulama, tetapi orientasinya menyerupai para pemburu dunia.

Ketika Ilmu Menjadi Tangga Menuju Istana
Ilmu seharusnya menjadi jalan menuju ridha Allah. Akan tetapi bagi ulama suu’, ilmu berubah menjadi tangga menuju istana penguasa.

Mereka tidak lagi bertanya:
“Apakah Allah ridha dengan perkataanku?”

Tetapi yang mereka tanyakan adalah:
“Apakah penguasa ridha kepadaku?”

Mereka tidak lagi menimbang perkataan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka menimbangnya dengan kepentingan politik, jabatan, fasilitas, proyek, penghormatan, dan kedudukan.

Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah.

Allah Ta’ala telah mengingatkan:
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
“Janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Baqarah: 41)

Betapa banyak manusia yang dahulu memulai perjalanan ilmunya dengan penuh keikhlasan. Mereka menangis saat membaca Al-Qur’an, beribadah di keheningan malam, dan bercita-cita menjadi pewaris Nabi.

Namun ketika dunia datang menghampiri, hati mereka berubah.

Mereka tidak lagi menjadi juru bicara kebenaran, melainkan menjadi juru bicara kekuasaan.

Tidak lagi menjadi pembela umat, melainkan pembela penguasa.

Tidak lagi menjadi penerang jalan menuju Allah, melainkan menjadi stempel yang melegitimasi setiap kebijakan zalim.

Jubbul Huzn: Neraka yang Bahkan Ditakuti Neraka
Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya tentang sebuah lembah yang sangat mengerikan di dalam Jahannam yang disebut Jubbul Huzn.

Sebuah lembah yang begitu dahsyat sehingga Jahannam sendiri memohon perlindungan kepada Allah darinya.

Para ulama menjelaskan bahwa ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, mengajarkan agama, dan menampilkan kesalehan di hadapan manusia, tetapi seluruh amal itu dibangun di atas riya dan kepentingan dunia.

Mereka menghafal Al-Qur’an tetapi tidak menghidupkan Al-Qur’an.

Mereka mengajarkan agama tetapi tidak tunduk kepada agama.

Mereka berbicara tentang keikhlasan tetapi menjual fatwa.

Mereka menyeru manusia kepada Allah, tetapi diam-diam menyeru manusia kepada diri mereka sendiri.
Inilah tragedi terbesar seorang alim.

Karena dosa orang awam lahir dari kebodohan, sedangkan dosa ulama suu’ lahir dari pengkhianatan terhadap ilmu yang mereka ketahui.

Penyakit yang Merusak Hati Para Ulama Suu’
Para imam tasawuf menjelaskan bahwa awal kerusakan seorang alim bukanlah pada lisannya, melainkan pada hatinya.

Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa ketika cinta dunia masuk ke dalam hati seorang alim, maka cahaya ilmu mulai padam sedikit demi sedikit.

Pada awalnya ia hanya menyukai pujian.

Kemudian ia mulai mencintai kedudukan.

Lalu ia merasa senang berada dekat dengan para pejabat.

Setelah itu ia takut kehilangan fasilitas.
Kemudian ia takut kehilangan pengaruh.
Lalu ia takut kehilangan jabatan.

Dan akhirnya ia lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah.
Inilah awal kehancuran.

Padahal Allah berfirman:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
“Janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Ketika Da’i Menjadi Stempel Kezaliman

Salah satu bentuk ulama suu’ yang paling berbahaya adalah mereka yang menjadi stempel bagi penguasa zalim.

Mereka menggunakan dalil untuk membenarkan kebatilan.
Menggunakan mimbar untuk membungkam kebenaran.
Menggunakan sorban untuk menutupi kezaliman.
Menggunakan fatwa untuk melindungi kekuasaan.

Mereka mengetahui bahwa suatu kebijakan bertentangan dengan syariat.

Mereka mengetahui bahwa hak-hak rakyat dirampas.

Mereka mengetahui bahwa hukum Allah ditinggalkan.

Mereka mengetahui bahwa kezaliman sedang berlangsung.
Tetapi mereka memilih diam.

Bahkan lebih buruk lagi, mereka tampil di hadapan masyarakat untuk memberikan pembenaran agama terhadap kezaliman tersebut.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Namun ulama suu’ justru melakukan kebalikannya.
Mereka menyampaikan kalimat pembenaran di hadapan penguasa yang zalim.

Mengapa Ancamannya Sangat Berat?
Karena kerusakan ulama lebih luas daripada kerusakan orang awam.

Orang awam mungkin menyesatkan dirinya sendiri.
Tetapi ulama suu’ dapat menyesatkan ribuan bahkan jutaan manusia.

Ketika seorang penguasa zalim berbicara, masyarakat masih bisa curiga.
Tetapi ketika seorang ulama berbicara, masyarakat akan percaya.

Karena itulah Iblis lebih senang merusak seorang alim daripada merusak seribu orang awam.

Sebab dengan rusaknya seorang alim, rusak pula banyak manusia yang mengikutinya.

Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari رحمه الله berkata:
“Apabila seorang alim rusak, maka rusaklah alam.”
Karena manusia mengambil agama dari lisannya.

Kesedihan Abadi di Hari Kiamat

Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya dipanggil:
“Kyai.”
“Ustaz.”
“Habib.”
“Syaikh.”
“Guru.”

Tangannya dicium manusia.
Namanya dipuji di berbagai majelis.
Ceramahnya disebarkan.
Pendapatnya diikuti.
Namun pada Hari Kiamat Allah membuka seluruh rahasia hatinya.

Terlihat bahwa semua yang ia lakukan bukan untuk Allah.

Ternyata ia berbicara agar dihormati.

Ternyata ia berdakwah agar terkenal.

Ternyata ia berfatwa agar dekat dengan penguasa.

Ternyata ia diam terhadap kezaliman demi mempertahankan kenyamanan hidupnya.

Maka pada hari itu tidak ada lagi gelar.
Tidak ada lagi pengikut.
Tidak ada lagi tepuk tangan.
Tidak ada lagi penghormatan.
Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak bertepi.

Inilah salah satu makna ruhani dari Jubbul Huzn, lembah kesedihan yang mendalam akibat pengkhianatan terhadap amanah ilmu.

Ulama Pewaris Nabi, Bukan Pewaris Istana

Para nabi datang untuk menegakkan kebenaran.
Mereka tidak menjual wahyu.
Mereka tidak menggadaikan risalah.
Mereka tidak menyesuaikan kebenaran demi kepentingan penguasa.

Nabi Nuh عليه السلام ditolak.
Nabi Ibrahim عليه السلام dibakar.
Nabi Musa عليه السلام dikejar Fir’aun.
Nabi Zakaria dan Yahya عليهما السلام dibunuh.
Nabi Muhammad ﷺ diusir dari tanah kelahirannya.

Semua itu karena mereka memilih ridha Allah dibanding ridha manusia.

Maka siapa pun yang mengaku pewaris nabi hendaknya mewarisi keberanian mereka, bukan mewarisi kemewahan istana.

Muhasabah untuk Para Penuntut Ilmu

Tulisan ini bukan untuk mencela ulama, sebab para ulama rabbani adalah lentera umat dan pewaris para nabi.

Tulisan ini adalah peringatan bagi diri kita semua, terutama bagi siapa saja yang berbicara atas nama agama.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ilmu yang kita pelajari semakin mendekatkan kita kepada Allah?

Apakah dakwah yang kita lakukan benar-benar untuk Allah?

Apakah kita berani mengatakan yang hak ketika manusia tidak menyukainya?

Apakah kita mencintai kebenaran lebih daripada kedudukan?

Apakah kita takut kehilangan ridha Allah lebih daripada takut kehilangan dunia?

Karena keselamatan seorang alim bukan pada banyaknya kitab yang dibaca.

Bukan pada panjangnya gelar.

Bukan pada banyaknya pengikut.

Bukan pada dekatnya dengan penguasa.

Tetapi pada hati yang ikhlas, lisan yang jujur, dan keberanian untuk berdiri bersama

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah ilmu yang tidak diamalkan, dari riya yang tersembunyi, dari cinta dunia yang membinasakan, dan dari menjadi bagian dari ulama suu’ yang menjual agamanya demi kepentingan dunia yang fana.

وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْهِ التُّكْلَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.

Penulis: Ues Al-Jadid Abu Najmi

* Khadim Majelis Hayatul Islam
Founder 

ancamanbagikerasStempelulama
Comments (0)
Add Comment