Willy Aditya: Soal Isi Merger NasDem – Gerindra, Yang Ditawarkan Surya Paloh ‘Political Bloc’

DERAKPOST.COM – Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya, menepis kabar yang menyebutkan adanya rencana merger atau penggabungan organisasi dengan Partai Gerindra dalam waktu dekat.

Isu ini ditepis langsung oleh Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, yang menyatakan bahwa narasi mengenai fusi kedua partai tersebut adalah keliru.

Willy menjelaskan bahwa Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, sebenarnya sedang mendorong terbentuknya political bloc atau blok politik antar-partai. Konsep ini menurutnya sangat berbeda dengan skema merger.

“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah political bloc. Blok politik, bukan merger,” ucap dia ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin dikutip dari laman JPNN.

Dia mengatakan political bloc merupakan bagian dari rekayasa politik (politicalengineering) sebagai upaya mengadang kecenderungan hubungan partai politik dewasa ini yang transaksional.

“Kan selama ini transaksional banget, ya. Nah, kita membutuhkan sebuah political bloc yang solid dari atas sampai ke bawah, begitu. Pemahamannya jangan merger, dong,” katanya.

Ia menyayangkan pihak yang memakai narasi merger. Menurut dia, istilah itu tidak tepat dipadukan dalam konteks politik.

Willy mengakui lanskap politik Indonesia pernah diwarnai fusi atau peleburan kepartaian, tetapi hal itu dilakukan atas dasar keputusan negara.

“Kita pernah punya tradisi fusi kepartaian, tapi itu di-drive (didorong) dari atas oleh kekuasaan. Penggabungan partai hanya dua: partai-partai Islam menjadi PPP, partai-partai nasionalis menjadi PDI,” tutur dia.

Ia menilai pihak yang menggunakan narasi merger gagal membaca gagasan Surya Paloh yang menurut dia penuh dengan pertimbangan reflektif.

“Dia (pihak yang menggunakan narasi merger) harusnya menangkap Pak Surya itu orang yang berpikir out of the box (lain dari biasanya),” katanya.

Kan katanya, selama ini berpikir cuma sekretariat bersama, partai koalisi. Koalisi itu dalam proses kandidasi. Sementara di dalam government (pemerintahan), tidak mengenal koalisi.

“Kita kan hanya ada menerapkan sistem)
presidensial, pemerintahan koalisi itu dikenal di dalam parlementer,” lanjut dia menjelaskan latar belakang gagasan blok politik itu.

Ia pun lebih lanjut mencontohkan penerapan blok politik di Indonesia.

“Golkar itu political bloc. Ingat dulu Undang-Undang yang lama, Undang-Undang partai politik dan golongan karya. Artinya, kita punya dua political bloc, ya. Satu, dulu Bung Karno ketika dia mengeluarkan dekrit itu namanya Front Nasional, yang bernama Nasakom itu. Yang kedua, golongan karya itu sebelumnya Sekber Golkar. Itu political bloc,” ucap Willy.

Sementara itu, ketika ditanya perihal pertemuan antara Surya Paloh dan Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, Willy mengatakan itu merupakan hal wajar.

“Wajar saja dua sahabat bertemu. Ketika pertama kali Pak Prabowo datang ke Gondangdia (NasDem Tower), kami diskusi enam jam tentang banyak hal. Di mana ada hal yang lebih akrab, yang lebih intimate, untuk bisa berdialektika seperti itu? Seorang Surya Paloh dengan seorang Pak Prabowo waktu itu bisa berdiskusi secara equal (setara) tentang banyak hal,” kata dia.  (Dairul)

GerindraMergerNasDemSuryaWilly
Comments (0)
Add Comment