Rupiah Melemah dan BBM Industri Melonjak, Kontraktor Migas di Riau Ikut Kelimpungan

DERAKPOST.COM – Kenaikan harga BBM industri dan juga pada pelemahan rupiah. Hal itu menyebabkan kontraktor migas di Riau mealami tekanan biaya operasional yang berat, terutama itu pada sektor jasa penunjang seperti drilling dan konstruksi.

Sehingga halnya kontraktor migas di Riau tertekan yang akibat lonjakan harga BBM industri dan juga pelemahan rupiah. Biaya operasional malah meningkat, memaksa penyesuaian ketat dan ancaman PHK. Hal khususnya ini pada sektor jasa penunjang migas, tengah menghadapi tekanan biaya yang disebut paling berat dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari laman Bisnis. Perusahaan ada terpaksa melakukanya penyesuaian ketat dengan prioritaskanya gaji karyawan dan pembelian solar. Sedangkan pembayaran kepada pihak pemasok lain ditunda, serta mengurangi akan jam operasional proyek. Hal kondisi demikian ini menjadi perhatian serius dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Riau.

Dalam hal ini, APINDO Riau mengusulkan kebijakan khusus untuk dapat membantu kontraktor lokal. Seperti halnya itu skema penalangan solar industri, atau juga klaim eskalasi biaya bulanan ini, guna mengatasi dampak ekonomi yang semakin berat. Hal kenaikannya harga BBM Industri melonjak tajam, ditambah hal pelemahan nilai tukar rupiah tersebut.

Dikatakan Sekretaris Umum DPP APINDO Riau Elwan Jumandri, bahwa kondisi saat ini bahkan lebih berat jikalau itu dibanding masa-masa sebelumnya, ketika harga dari solar industri yang pernah naik ketika era Chevron. “Dulu saat masih di Chevron kita juga pernah mengalami kenaikanya harga solar, tapi kenaikan masih landai dan tidak seekstrem sekarang,” ujarnya.

Dikatakan dia, waktu itu kontraktor masih bisa melakukan klaim eskalasi dan bahkan mendapatkan ganti rugi atas selisih harga. Jadi artinya, masih ada keringanan untuk membantu biaya operasional. Tapi saat ini sambungnya, situasinya berbeda. Menurut Elwan, lonjakan harga solar industri terjadi sangat cepat sejak akhir Februari 2026.

Ia juga menduga dalam kondisi geopolitik internasional, terutama konflik pihak Iran sama Amerika Serikat, ikut mengganggu pada pasokan bahan baku impor energi di tengah produksi minyak nasional disaat ini  yang belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Akibatnya, harga solar industri yang sebelumnya berada di kisaran Rp14 ribu per liter kini sudah mendekati Rp31 ribu per liter. Saat bersamaan, kurs dolar AS juga terus menguat hingga sempat menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar.

Tekanan itu langsung terasa di lapangan. Dalam proyek-proyek migas, beban BBM memang menjadi komponen utama biaya operasional. Untuk hal pekerjaan drilling, porsi dalam kebutuhan BBM, bahkan bisa juga mencapai sekitar 30% dari total biaya proyek. Pada pekerjaan workover berkisar 20%, sementara proyek konstruksi migas bisa lebih tinggi lagi, dikarena penggunaan alat berat dan hal mesin operasional yang intensif.

Dikarena itu, sektor jasa rental alat berat, drilling, work over yang hingga konstruksi migas menjadi kelompok usaha itu paling terdampak. Banyak dari perusahaan, kata Elwan, kini bertahan dengan melakukanya penyesuaian pengeluaranya secara ketat. “Yang diprioritaskan sekarang hanya gaji karyawan dan solar. Supplier lain banyak ditunda pembayarannya,” kata Elwam.

Sejauh ini kata Elwan, memang belum ada terlihat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Namun tekanan operasional dimulai memengaruhi ritme kerja perusahaan. Sejumlah proyek, ungkapnya, disebut mulai memangkas jam operasional dari pola kerja time 12 itu jadi  time 8 demi menekan biaya. Kemungkinan kalau kondisi ini nanti terus berlangsung, kemungkinan penggajian juga nanti bisa terganggu.

Menurut Elwan, tekanan yang dirasakan dunia usaha saat ini datang bertubi-tubi. Selain kenaikan BBM industri dan disertai pelemahan rupiah, perusahaan juga harus menghadapi kenaikan pada upah pekerja, lonjakan harga spare part impor, hingga meningkat biaya logistik dan kebutuhan pokok. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri besar. Namun sektor lainnya juga
terkena imbas demikian.

Meski pun begitu, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi Riau. Elwan juga menilai sektor berbasis ekspor seperti Crude Palm Oil (CPO) dan pulp and paper justru masih mendapat keuntungan yang karena nilai ekspor meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Namun untuk halmya industri itu, yang sangat bergantung pada BBM dan barang impor situasi berbeda.

Ia menyebut kontraktor migas skala kecil jadi kelompok yang paling rentan terpukul. “Kontraktor dengan modal kecil, yang juga paling berat. Bisa saja nanti ada yang tidak sanggup bertahan,” katanya. Maka saat ini, APINDO Riau ujarmya, tengah menyiapkan pembahasan bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), termasuk itu pada PT Pertamina Hulu Rokan, untuk hal mencari solusi bagi kontraktor lokal terdampak.

Persoalannya, lanjut Elwan, banyak pada kontrak kerja sudah lebih ditandatangani sebelum harga BBM melonjak dan rupiah melemah. Padahal dalam hal praktiknya, mekanisme eskalasi dari biaya baru bisa diajukanya setelah kontrak berjalan lebih dari 12 bulan dan serta harus memenuhi sejumlah syarat administratif. Karena itu APINDO tetap mendorong ada kebijakan khusus tersebut.

Seperti halnya kata Elwan, adanya skema penalangan solar industri atau mekanisme klaim eskalasi itu dihitung per bulan tanpa harus menunggu untuk satu tahun kontrak berjalan. Elwan juga menilai kondisi disaat ini semakin berat yang disebabkan banyak kontraktor migas mengalami tekanan lain, termasuk penghentian operasional massal yaitu di lingkung kerja PT Pertamina Hulu Rokan akibat insiden fatality.  (Dairul)

BBMhargakontraktormigasRiau
Comments (0)
Add Comment