Rumah Kardus Pendidikan Tragedi Pilu Murid SD di NTT

BARU-BARU ini, kita semua tersentak oleh kabar viral, menyayat hati dari Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang murid kelas IV Sekolah Dasar (SD) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada sebuah batang cengkih yang tak jauh dari gubuk neneknya yang hanya berdinding bambu pada 29 Januari 2026.

Mirisnya, pemicu tragedi ini diduga kuat karena keluarganya tak sanggup membelikan buku dan pena seharga Rp 10.000. Kenyataan ini bukan sekadar berita duka, ini adalah tamparan keras bagi nurani kita.

Ia menjadi bukti nyata betapa bangsa ini masih terbelenggu oleh kemiskinan ekstrem menyebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi hak-hak dasar anak bangsa—hak yang semestinya bukan lagi sekadar angan-angan di negeri yang katanya sudah merdeka.

Tragedi di NTT ini menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk melakukan introspeksi mendalam. Sudah saatnya kita meninggalkan “Rumah Kardus”—sebuah metafora untuk sistem yang tampak megah dari luar melalui berbagai retorika dan angka, namun sejatinya rapuh, mudah terkoyak, dan rawan rubuh di lapisan bawah.

Dunia pendidikan kita tak perlu lagi menonjolkan kegiatan-kegiatan seremonial dengan berbagai program bantuan yang di atas kertas tampak luar biasa, namun pada kenyataannya tidak menyentuh akar rumput. Apa gunanya laporan capaian yang indah jika di pojok negeri masih ada anak yang harus meregang nyawa hanya karena selembar buku tulis dan sebuah pena?

Bocah di NTT tersebut adalah bukti nyata dari ketidakpedulian kolektif kita. Kita terjebak dalam angka-angka statistik makro hingga lupa pada kehidupan di lingkungan sekitar. Kita sering kali abai pada hal-hal kecil—seperti nilai Rp 10.000—yang bagi sebagian orang hanyalah harga segelas kopi, namun bagi yang lain adalah taruhan nyawa dan masa depan.

Ketimpangan ekonomi yang begitu lebar telah menciptakan jurang keputusasaan. Pendidikan seharusnya menjadi jembatan untuk keluar dari kemiskinan, bukan justru menjadi panggung yang mempertontonkan ketidakberdayaan ekonomi seorang anak di hadapan teman-temannya.

Tragedi ini menjadi pengingat bagi setiap elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat sipil. Kita harus lebih peka, lebih peduli, dan lebih nyata dalam bergerak. Jangan biarkan ada lagi anak bangsa yang merasa sendirian dalam perjuangannya menuntut ilmu. Sudah saatnya sistem “Rumah Kardus” diganti dengan fondasi kepedulian yang nyata, agar tak ada lagi nyawa melayang hanya karena sebuah pena.

Penulis: Isman Iriadi

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Genggam Tangan Anak Bangsa (DPD GTAB) Provinsi Riau)

AnakkardusNTTrumahSD
Comments (0)
Add Comment