Refleksi Akhir Tahun, Hukum dan Arah Ekonomi Kita

AKHIR tahun kerap diisi dengan rangkuman capaian dan deretan angka pertumbuhan. Namun, bagi bangsa yang masih terus mencari arah, refleksi akhir tahun seharusnya melampaui statistik. Ia perlu dibaca sebagai evaluasi moral dan struktural, terutama melalui dua fondasi utama kehidupan bernegara: hukum dan ekonomi.

Dalam setahun terakhir, hukum kembali diuji, bukan karena ketiadaan aturan, melainkan oleh lemahnya konsistensi penegakan. Indonesia tidak kekurangan regulasi. Justru sebaliknya, regulasi sering kali menumpuk tanpa diiringi keteladanan dan integritas aparat. Akibatnya, hukum kerap tampak tegas ke bawah, tetapi lentur ke atas.

Masalah mendasarnya adalah kepercayaan publik. Ketika hukum dipersepsikan tidak adil, kepatuhan masyarakat pun melemah. Padahal, negara hukum tidak bisa berdiri hanya dengan sanksi, tetapi dengan legitimasi moral. Supremasi hukum hanya akan bermakna jika ia dirasakan sebagai pelindung, bukan sekadar alat kekuasaan.

Dari sisi ekonomi, berbagai indikator pertumbuhan patut diapresiasi. Namun refleksi yang jujur menuntut pertanyaan mendasar: siapa yang paling menikmati pertumbuhan tersebut? Kesenjangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa kebijakan korektif, pertumbuhan justru berpotensi memperlebar jarak antara yang kuat dan yang rentan.

Hukum dan ekonomi sejatinya tidak dapat dipisahkan. Kepastian hukum merupakan prasyarat iklim investasi dan pembangunan berkelanjutan. Sebaliknya, ekonomi yang sehat membutuhkan hukum yang adil dan dapat dipercaya. Ketika hukum kehilangan wibawa, pasar menjadi spekulatif, dan kebijakan ekonomi kehilangan daya jangka panjangnya.

Refleksi akhir tahun ini menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari laju pertumbuhan, tetapi dari kualitas keadilan sosial yang dihasilkannya. Negara diuji bukan semata pada kemampuannya menciptakan angka-angka makro, melainkan pada keberanian menghadirkan keadilan dalam kebijakan nyata yang dirasakan masyarakat luas.

Dalam konteks ini, peran kaum intelektual menjadi semakin penting. Perguruan tinggi dan akademisi tidak boleh sekadar menjadi penonton yang sibuk dengan rutinitas administratif. Kampus harus kembali pada fungsi dasarnya sebagai ruang kritis, tempat nilai-nilai kebenaran dan keadilan dirawat secara rasional dan bertanggung jawab.

Sebagai dosen pascasarjana, saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk membaca problem bangsa secara jernih, bukan membenarkan kekuasaan secara membabi buta. Akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan publik dengan kritik berbasis data, serta mendidik generasi muda dengan nilai integritas dan keberanian berpikir.

Refleksi ini juga relevan bagi dunia kealumnian. Alumni perguruan tinggi merupakan modal sosial strategis yang sering kali terabaikan. Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum IKA UIR, saya melihat bahwa alumni tidak cukup berhenti pada nostalgia institusi. Alumni harus menjadi bagian dari solusi, hadir dalam pengabdian sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan etika publik.

Alumni yang kuat bukan sekadar mereka yang berhasil secara individual, melainkan mereka yang bersedia berbagi jejaring, pengetahuan, dan kepedulian sosial. Di tengah keterbatasan negara, solidaritas warga terdidik justru menjadi energi penting bagi perubahan yang berkelanjutan.

Menutup tahun ini, kita patut optimistis, tetapi tidak boleh lengah. Kita membutuhkan hukum yang ditegakkan dengan integritas, ekonomi yang tumbuh dengan keadilan, serta kaum intelektual dan alumni yang berani mengambil peran di ruang publik.

Pada akhirnya, refleksi akhir tahun seharusnya bermuara pada sikap personal sekaligus kolektif: yakin, usaha, dan sampai. Yakin bahwa bangsa ini memiliki modal sosial dan intelektual untuk bangkit. Usaha dengan kerja yang jujur, konsisten, dan berpihak pada kepentingan bersama. Dan sampai pada tujuan dengan ketekunan, meski jalan perubahan sering kali panjang dan tidak mudah.

Akhir tahun bukanlah garis akhir, melainkan jeda untuk menata arah. Selama keyakinan dijaga, ikhtiar tidak berhenti, dan komitmen terhadap keadilan terus dirawat, harapan bukanlah sesuatu yang utopis, melainkan proses yang sedang kita jalani bersama. ***

 

Penulis: Dr. Ragil Ibnu Hajar

* Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI)

* Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Riau (IKA UIR)

 

akhirekonomihukumrefleksitahun
Comments (0)
Add Comment