DERAKPOST.COM – Bertempat di Kantor PWI Riau, Jalan Arifin Achmad, hari Rabu (29/07/2026), telah menerima kunjungan silaturahmi jajaran manajemen PT Pulau Sambu atau Sambu Group.
Pertemuan tersebut menjadi momentum mempererat hubungan dengan insan pers sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam publikasi perkembangan industri perkelapaan di Provinsi Riau.
Rombongan Sambu Group dipimpin Corporate Communication Manager PT Pulau Sambu, Dwianto Arif W, didampingi Head of Public Relations Arief Aria Rachman dan Agnes Pinkan.
Kedatangan mereka disambut jajarannya pengurus PWI Riau. Dalam pertemuan itu, Dwianto memaparkan perjalanan panjang PT Sambu Group yang telah menjadi salah satu bagian pelopor industri olahan kelapa terpadu di Indonesia.
Katanya, perusahaan ini yang berpusat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, akan memasuki usia ke-59 tahun itu, Desember 2026 dan akan bersiap menyambut enam dekade kiprahnya pada tahun depan.
“Kami berharap ada kolaborasi yang baik dengan PWI Riau. Saat ini juga, kami terus mengembangkan berbagai produk turunan kelapa. Untuk pemasaran ekspor mealami perlambatan, diakibat kondisi geopolitik dan ekonomi dunia,” ungkap Dwianto
Menurutnya, tantangan industri kelapa saat ini tidak hanya dipengaruhi kondisi geopolitik global, tetapi juga meningkatnya biaya operasional. Bahkan perubahan jalur pelayaran internasional menyebab biaya logistik dan asuransi kapal meningkat.
Sementara bahan kemasan steril berbasis Tetra Pak dan SIG masih bergantung pada impor yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, hal komoditas kelapa di Indonesia dan juga kawasan Asia Tenggara musim panen raya.
Tetapi melimpah produksi belum diimbangi dengan halnya tingginya permintaan pasar internasional. Bahkan sejumlahan negara seperti Malaysia dan Thailand menerapkan pembatasan impor untuk melindungi hasil panen petani domestik mereka.
Menghadapi kondisi itu, katanya PT Sambu Group ini memilih tetap konsisten jalankan strategi hilirisasi dengan mengutamakanya dalam pengolahan produk turunan bernilai tambah dibandingkan mengekspor kelapa mentah.
“Kami tetap fokus pada produk turunan karena ingin memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Sangat disayangkan apabila kelapa hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah tanpa diolah di dalam negeri,” tegasnya.
Dwianto menjelaskan, sekitar 90 persen kebutuhan bahan baku pabrik dipasok langsung oleh petani rakyat, sedangkan kebun inti perusahaan seluas sekitar 22.000 hektare di Pulau Burung hanya memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan produksi.
Selain itu, dinamika ekonomi global yang sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026 turut memengaruhi permintaan berbagai produk turunan kelapa, seperti Crude Coconut Oil (CNO) dan desiccated coconut atau tepung kelapa.
Banyak pembeli internasional menunda pengisian kembali stok dan sementara beralih ke minyak nabati lain yang dinilai lebih kompetitif.
Meski demikian, Sambu Group tetao terus memperkuat rantai pasok lokal dan upaya meningkatkan hal efisiensi distribusi dari petani ke pabrik agar berbagai produk unggulan.
Mulai dari santan kemasan, minyak goreng kelapa merek KARA, hingga tepung kelapa untuk kebutuhan industri bakery di Eropa, Amerika Serikat, dan China tetap memiliki daya saing di pasar global.
Menanggapi paparan tersebut, PWI Riau menyatakan komitmennya mendukung keberlanjutan industri lokal yang melalui publikasi yang informatif dan edukatif. Hal itu, dengan lebih dari 1.700 anggota PWI di Provinsi Riau.
“Lebih dari 1.700 anggota PWI, di Provinsi Riau, yang tersebar berbagai media cetak, elektronik, televisi, radio, dan portal berita daring. Maka, PWI Riau siap membangun kolaborasi memperkuat penyebarluasan informasi,” sebutnya. (Redaksi)