DERAKPOST.COM , PAUH MURATARA- Kekecewaan mendalam dirasakan oleh keluarga pasien saat menjalani perawatan di Puskesmas Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut dinilai lamban dan kurang responsif, terutama saat menghadapi kondisi darurat di hari libur.
Peristiwa bermula saat keluarga dari istri saudara Toher mencoba meminta pemeriksaan awal kepada Kepala UPT (KUPT) Puskesmas Pauh, dr. Arnida, di kediamannya.
Namun, saat itu hanya asisten dokter yang menemui. Berdasarkan pemeriksaan awal tersebut, pasien didiagnosis menderita tekanan darah tinggi dan kadar gula rendah, sehingga disarankan segera dibawa ke Puskesmas.
Setibanya di Puskesmas pada Sabtu (11/4) sekitar pukul 18.00 WIB, keluarga mengaku terkejut karena tidak mendapati petugas medis yang berjaga di barisan depan.
“Sampai di Puskesmas tidak ada orang, cuma ada satpam. Kami terpaksa ambil kursi roda sendiri dan masuk ke ruang UGD tanpa bantuan pihak Puskesmas,” ungkap istri pasien dengan nada kecewa.
Beruntung, tak lama berselang, seorang perawat wanita datang membantu memasang infus, yang kemudian disusul oleh seorang perawat pria untuk memberikan tindakan medis lanjutan.
Kekecewaan keluarga memuncak ketika kondisi pasien tak kunjung membaik. Berdasarkan keterangan keluarga, pihak dokter sebenarnya sudah menyarankan agar pasien dibawa ke Rumah Sakit di Lubuklinggau. Namun, saat keluarga meminta surat rujukan resmi, pihak puskesmas justru tidak memberikannya.
“Pihak dokter menyarankan agar dibawa ke RS Lubuklinggau. Tapi saat kami meminta surat rujukan sebagai syarat prosedur, pihak Puskesmas tidak memberikannya. Kami bingung, disarankan berangkat tapi rujukan dipersulit,” tambah pihak keluarga.
Kejadian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi serius bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Muratara. Masyarakat berharap pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan tetap berjalan prima tanpa terhalang status hari libur, demi menjamin keselamatan nyawa pasien. Pelayanan publik, terutama kesehatan, seharusnya tidak mengenal kata “libur” saat nyawa menjadi taruhannya. (TULENTINO)