DALAM panggung birokrasi dan politik Provinsi Riau, Drs. H. Syamsuar, M.Si., yang menyandang gelar adat Datuk Serisetia Amanah, adalah potret nyata dari sebuah ketekunan.
Pria yang sukses menduduki kursi Gubernur Riau periode 2019–2023 ini meniti kariernya benar-benar dari tingkat terbawah: mulai dari buruh tambang batu bara, pegawai honorer, hingga akhirnya menjadi orang nomor satu di Bumi Lancang Kuning.
Sebelum mengomandoi Provinsi Riau, nama Syamsuar sudah lebih dulu harum berkat kepemimpinan bertangan dingin sebagai Bupati Siak selama dua periode (2011–2019). Rekam jejaknya panjang di dunia birokrasi menjadikannya pamong praja paling berpengalaman dimiliki daerah ini.
Masa Kecil di Rokan Hilir dan Tempaan Hidup yang Keras
Syamsuar dilahirkan pada 8 Juni 1954 di Desa Jumrah, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Lahir sebagai anak kedua dari pasangan Wahi Abdullah dan Rahimah, Syamsuar tumbuh di tengah keluarga petani padi dan karet yang sederhana namun sarat kedisiplinan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di kampung halaman hingga lulus pada tahun 1966. Demi melanjutkan sekolah, ia harus merantau ke Bagansiapiapi untuk tingkat SMP (lulus 1969) dan kemudian bergeser ke Bengkalis untuk menamatkan bangku SMA pada tahun 1972.
Selesai mengantongi ijazah SMA, kerasnya gelombang kehidupan langsung menguji Syamsuar muda. Ia merantau jauh ke Sawahlunto, Sumatra Barat, dan bekerja kasar sebagai buruh tambang batu bara selama tiga tahun. Pengalaman mandi keringat di dalam perut bumi inilah kelak membentuk mental baja dan empati sosialnya yang tinggi terhadap masyarakat kecil.
Meniti Karier dari Honorer hingga Pamong Praja Senior
Panggilan tanah kelahiran membawanya kembali ke Kabupaten Bengkalis. Di sana, ia memulai pengabdian di pemerintahan setempat sebagai seorang pegawai honorer. Garis tangannya mulai berubah cerah saat ia berhasil menembus seleksi Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pekanbaru.
Lulus dari APDN, Syamsuar resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1987. Haus akan ilmu, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana (S1) dari Universitas Sumatera Utara (USU) pada 1990 dan kemudian merampungkan gelar Magister (S2) di Universitas Riau (Unri) pada 2005.
Karier Birokrasinya Melesat Secara Bertahap Melalui Berbagai Pos Taktis:
* Camat Siak (1996) — Menjadi fase awal kedekatannya dengan masyarakat Siak.
* Camat Tanjung Pinang Barat (2000).
* Wakil Bupati Siak (2001–2006) — Mendampingi Bupati Arwin AS pada masa awal pemekaran kabupaten.
Meski sempat merasakan pil pahit kekalahan saat maju sebagai calon bupati pada Pilkada Siak 2006, Syamsuar tidak patah arang. Ia ditarik ke Pemerintah Provinsi Riau untuk mengemban tugas-tugas berat, mulai dari Sekretaris KPU Riau (2008), Inspektur Provinsi Riau (2010), hingga ditunjuk menjadi Penjabat (Pj.) Bupati Kepulauan Meranti.
Arsitek Kejayaan “Siak Hijau” dan Pelestarian Kebudayaan Melayu
Ketekunannya berbuah manis pada Pilkada Siak 2011. Maju kembali dalam kontestasi, Syamsuar berhasil keluar sebagai pemenang. Ia bahkan kembali terpilih mutlak untuk periode kedua pada Pilkada 2016 dengan raihan 59,6% suara.
Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Siak mengalami lompatan besar dan menorehkan berbagai warisan monumental:
* Pelestarian Kebudayaan (Tanjak Melayu): Pada tahun 2017, Syamsuar menginisiasi dan mensosialisasikan pemakaian Tanjak—penutup kepala tradisional Melayu—setiap hari Kamis bagi ASN. Kebijakan ini sukses memantik kebanggaan lokal dan menghidupkan kembali industri kreatif berbasis budaya.
* Cagar Budaya Nasional: Kota tua Siak, yang merupakan bekas ibu kota Kesultanan Siak Sri Indrapura, resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia, mengunci statusnya sebagai pusat wisata sejarah utama.
* Inisiasi Kabupaten Hijau: Syamsuar berkomitmen penuh terhadap isu lingkungan dengan mendaftarkan Siak sebagai “Kabupaten Hijau”, sebuah langkah progresif dalam konservasi dan perlindungan lahan gambut yang tersisa di wilayah tersebut.
Puncak Pengabdian: Memimpin Provinsi Riau
Keberhasilan kepemimpinan di tingkat kabupaten membuat masyarakat Riau menginginkan skala pengabdian yang lebih luas. Berpasangan dengan Edy Nasution, Syamsuar maju dalam Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) 2018. Pasangan ini menang meyakinkan dengan meraup 38,2% suara mengalahkan para pesaingnya.
Demi memegang amanah yang lebih besar, Syamsuar resmi meletakkan jabatannya sebagai Bupati Siak pada 4 Februari 2019. Ia kemudian dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara sebagai Gubernur Riau pada 20 Februari 2019.
Selama menakhodai Riau hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2023, Drs. H. Syamsuar, M.Si. konsisten membawa spirit ketulusan seorang pamong praja. Dari seorang buruh tambang yang berteman debu batu bara, ia membuktikan bahwa dedikasi dan integritas mampu mengantarkan putra daerah pelosok ke puncak tertinggi pengabdian masyarakat. (Redaksi)