Mendikti Apresiasi TKA Kemendikdasmen, Ikut Pertanyakan Alasan UN Dihapuskan

DERAKPOST.COM – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto soroti turunnya sisi kompetisi bagi murid sekolah. Salah satu alasannya karena muncul ketentuan tidak ada murid yang tinggal kelas.

“Anak-anak didik kita kemarin tidak ada tes masuk, tidak ada tinggal kelas. Jadi, gimana kompetisinya, kita nggak punya? Padahal di dunia ini kompetisi sangat keras Bapak-Ibu sekalian,” tuturnya dalam pembukaan Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali pada 2 Oktober 2026 dikutip dari tayangan ulang pada laman YouTube Undiksha, Senin (5/10/2026).

Ia ikut membandingkan ketentuan semasa ia bersekolah, yang mana kemampuan masih diukur berdasarkan Nilai Ebtanas Murni (NEM). NEM merupakan nilai hasil Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) yang kemudian berubah menjadi Ujian Nasional (UN). NEM berfungsi sebagai penentu kelulusan sekaligus syarat utama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bisa meningkatkan iklim kompetisi, Brian menilai seharusnya ujian berstandar nasional ditingkatkan, bukan dihilangkan.

“Kita kemarin dengan dasar atau dengan pertimbangan negara, daerah-daerah beda-beda kemampuan, sehingga dulu zaman kita ada Ebtanas ya, ada NEM gitu kan. Udah dihapuskan saja kan lucu, harusnya kan ditingkatkan dong yang masih rendah, bukan dihilangkan ujiannya,” urai Brian. Namun, kini ia bersyukur dan mengapresiasi kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. TKA, diisyaratkan Brian, bisa kembali meningkatkan iklim kompetisi.

“Sekarang Alhamdulillah, Pak Mendikdasmen (Abdul Mu’ti) sudah membuat TKA. Pak Mendikdasmen sudah membuat lagi, kita sama-sama bantu, kita sama-sama dukung. Sehingga, iklim siswa-siswa kita supaya ingin belajar, ingin menguasai ilmu-ilmu yang susah itu kita hidupkan kembali,” imbuhnya, dikutip dari laman Detik.

Diketahui, Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) merupakan forum pertemuan pimpinan perguruan tinggi, khususnya lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Dalam acara tersebut, seluruh pemangku kepentingan akan merumuskan arah strategi hingga rekomendasi pembangunan pendidikan nasional.

Melalui acara ini, Brian menyampaikan pesan khusus bagi pimpinan perguruan tinggi. Ia meminta para rektor untuk melihat dan uji setiap program dalam rencana strategis (renstra) yang dibuat. ” “Pimpinan perguruan tinggi silakan dilihat renstranya bagaimana. Apakah sudah memberi dampak?,” sampainya.

Dalam paparannya Brian berpesan agar dosen dan peneliti memulai suatu riset atau satu program pengabdian dari persoalan nyata di sekitar kampus. Riset harus bisa berguna untuk calon penggunanya.

Terakhir, Brian juga menitip pesan bagi guru dan pendidik calon guru. Ia ingin kebiasaan bertanya, mencoba, dan bekerja sama bisa ditanamkan kepada peserta didik.

Ketiganya disebut Brian sebagai bahan baku dalam menciptakan inovasi di Indonesia. Melalui Konaspi, Brian berharap kepingan-kepingan puzzle pendidikan bisa disatukan menjadi satu gambaran pendidikan yang lebih baik.

“Kita dari kementerian sebagai salah satu bagian, ada perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, sekolah, guru, industri, pemda. Itu adalah serakan-serakan yang lainnya, yang kita ingin semua ini bersatu membangun Indonesia Emas 2045,” ucapnya. (Dairul)

 

Comments (0)
Add Comment