DERAKPOST.COM – Upaya, penghentian operasional PT KIMI pasca aksi massa besar-besaran di Gerbang Pelindo Regional 1 Terminal Peti Kemas Perawang kini tengah diuji. Alih-alih sunyi aktivitas, fakta di lapangan justru menunjukkan tanda tanya besar. Operasional mitra Pelindo tersebut disinyalir masih berjalan memicu keraguan publik atas komitmen yang telah disepakati.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, pada Rabu 9 April 2026, setidaknya delapan truk pengangkut cangkang milik PT KIMI terpantau memasuki area stockpile di kawasan Pelindo Perawang. Kehadiran armada tersebut kontras dengan pernyataan resmi yang menyebutkan penghentian sementara operasional PT KIMI.
Seorang pengemudi truk yang ditemui beberapa waktu lalu di lokasi mengonfirmasi bahwa muatan yang mereka bawa memang milik PT KIMI. “Barangnya (cangkang) punya PT KIMI, kami hanya pihak pengangkutan. Kalau diinstruksikan kami ke sini, ya kami berangkat,” ungkap salah seorang sopir truk.
Warga mempertanyakan janji atau komitmen dari pihak Pelindo Perawang pada saat aksi demo. “Kami bukan menahan (truk cangkang), kami mengamankan. Kami mempertanyakan komitmen dari pihak Pelindo,” ucap salah seorang warga.
Tak hanya di siang bolong, warga sekitar juga melaporkan adanya pergerakan armada pada waktu-waktu yang tidak biasa. Dugaan “operasi senyap” ini semakin memperkeruh suasana di tengah masyarakat yang sedang memantau realisasi tuntutan mereka.
Pemantauan warga, aktivitas pengangkutan kerap terjadi saat hari mulai gelap. Temuan terbaru, sekitar empat unit truk kembali dikabarkan kembali terpantau memasuki kawasan Pelindo Perawang.
”Informasinya tadi malam ada juga cangkang PT KIMI yang masuk, sekitar empat mobil. Kami terus memantau ini,” ujar salah seorang warga lainnya pada Sabtu (11/4/2025).
Sebelumnya, dalam pernyataannya kepada pendemo kala itu, Yulfiatmi menegaskan bahwa aktivitas PT KIMI akan dihentikan sementara. Hal yang dipandang sebagai bentuk respons atas tuntutan massa. Namun, kondisi terkini dinilai tidak sejalan dengan pernyataan tersebut.
Sementara itu, dalam menanggapi laporan yang ada, pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pekanbaru Anwar saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut ke tingkat pimpinan.
“Kami akan laporkan kejadian ini ke pimpinan,” kata Anwar yang juga hadir saat aksi demo berlangsung beberapa waktu lalu.
Jika tidak segera ada klarifikasi dan langkah konkret terkait ketidaksinkronan antara janji dan fakta ini situasi tersebut dikhawatirkan berpotensi memicu gelombang protes lanjutan.
Publik kini menanti, apakah komitmen yang telah disampaikan akan ditegakkan?, atau justru menjadi penggerus kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan pelabuhan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak GM Pelindo Regional 1 Perawang maupun pihak PT KIMI. Kondisi itu semakin memperkuat persepsi publik bahwa ada ketidaktegasan dalam menindaklanjuti hasil mediasi. (Bery)