DERAKPOST.COM – Sebagaimana diketahui mobilitas warga pada momen lebaran yang masih terasa padat di jalur penyeberangan Alai-Gogok Darussalam, yakni Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Selasa (24/3/2026) siang.
Lonjakan penumpang yang menyeberang membuat antrean kendaraan serta warga mengular panjang. Hal yang sebagaimana pantauan di lokasi, delapan unit kempang dioperasikan sejak pagi tampak kewalahan mengurai kepadatan. Warga dari berbagai desa telah memadati titik penyeberangan, dengan kendaraan, sebagian besar merupakan arus silaturahmi lebaran hari keempat Idulfitri 1447 Hijriah.
Andri, salah seorang warga yang ikut mengantre, mengaku harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya bisa menyeberang dengan kempang bertarif Rp5.000 tersebut. “Saya hampir satu jam mengantre baru bisa naik kempang. Memang ramai sekali hari ini,” ujarnya.
Dikutip dari laman Goriau. Hal serupa juga disampaikan Erni. Ia menilai kepadatan kali ini jauh di luar kebiasaan hari normal. Kata dia, kalau hari biasa tidak seramai ini dan tidak selama ini. Ini karena momen Idulfitri, jadi semua orang bepergian.
Kondisi ini tidak lepas dari belum pulihnya akses utama penghubung di wilayah tersebut. Sejak ambruknya Jembatan Panglima Sampul di Desa Alai pada Rabu (22/5/2024) lalu, jalur penyeberangan kempang menjadi tumpuan utama mobilitas warga antara Pulau Tebingtinggi dan Pulau Merbau.
Peristiwa runtuhnya jembatan tersebut masih membekas di ingatan masyarakat. Saat itu, warga sempat melihat adanya pergerakan pada struktur jembatan hingga akhirnya aparat bersama warga mengambil langkah cepat dengan menutup akses.
Tidak lama kemudian, jembatan tersebut benar-benar roboh dan jatuh ke perairan.Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena warga sudah lebih dulu menghindari lokasi setelah mendapat peringatan dari aparat yang berjaga.
Kini, hampir dua tahun pascakejadian, jalur alternatif berupa kempang masih menjadi urat nadi penghubung dua pulau tersebut. Namun, pada momen tertentu seperti Lebaran, kapasitas layanan yang terbatas kerap memicu antrean panjang dan menghambat aktivitas masyarakat.
Warga berharap adanya solusi jangka panjang dari pemerintah agar akses penghubung antarwilayah kembali lancar, mengingat jalur ini memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di Kepulauan Meranti. (Dairul)