DERAKPOST.COM – Halnya, pendaftaran Bakal Calon Rektor Unri ini resmi ditutup. Hal itu didominasi dari Internal. Totalnya itu ada 8 bakal calon mendaftar diperiode 2026-2030.
Ketua Panitia Seleksi Prof Rasuli, diminta konfirmasi, Selasa (12/5/2026) menyebut, pendaftaran untuk bakal calon Rektor Unri ini resmi ditutup pukul 16.00 WIB. Terdata sebanyak 8 orang, dengan didominasi oleh internal. Karena hanya satu dari luar.
“Sore pukul 16.00 WIB ditutup. Terdata ada delapan bakal calon mendaftar. Dalam hal ini, didominasi internal Unri. Yakni, tercatat tujuh dari internal Unri. Sedangkan dari luar kandidat lain, yakni Aldrin Herwany, adalah berasal dari luar Unri,” ungkap Rasuli.
Kesempatan itu, Rasuli menyebut 8 orang bakal calon tersebut mengikuti tahapanya seleksi administrasi. Hal seluruh dokumen akan diteliti oleh panitia. Berikut kandidat mendaftar tercatat tujuh dari internal Unri, dan sedangkan kandidat lain, yakni Aldrin Herwany yang berasal dari luar Unri.
Diketahui bahwa Prof Jimmi tercatat aktif itu Dekan FKIP Unri, Dr Mexsasai Indra ini mantan pada Dekan Fakultas Hukum Unri kini menjabat Wakil Rektor I. Prof Iwantono aktif sebagai Dekan FMIPA Unri. serta Prof Firdaus ini tercatat mantan Dekan Fakultas Hukum Unri dan kini sebagai Guru Besar.
Kemudian itu ada Prof Elfizar aktif sebagai Wakil Dekan I FMIPA Unri, Prof Nofrizal ini yang Wakil Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unri, Prof Ahmad Fadli yang kini aktif sebagai Dekan Fakultas Teknik. Yang selanjutnya Aldrin Herwany ini Dosen PNS Unpad bertugas LLDikti Wilayah III Jakarta dan aktif sebagai dosen Perbanas Institute Jakarta.
Diketahui itu, yang dari 8 kandidat tersebut berasalkan dari 5 fakultas. Fakultas Hukum dan Fakultas MIPA (F-MIPA) menyumbang petarung terbanyak, Yakni, masing-masing dua kandidat rektor. Sementara itu, 4 bakal calon lainnya berasal dari Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK). Satu pendaftar berasal dari luar kampus Unri.
Kemunculan masing-masing dua bakal calon Rektor Unri dari Fakultas Hukum dan F-MIPA memunculkan spekulasi tidak solidnya kedua fakultas tersebut dalam mengusung kandidat. Meski demikian, ada pihak yang menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi memecah suara. (Dairul)